Mengintip PLTA Selorejo

Senin, 30 Maret 2015 | 15:14 WIB | Ferial

EBTKE--Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Selorejo berada dibawah kaki gunung kelut Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur dibangun pada tahun 1970 dan mulai beroperasi sejak 24 Juli 1973 dengan kapasitas 4,5 Mega Watt (MW).

Waduk Selorejo ini diresmikan oleh Presiden kedua, Soeharto. Namun pada tahun 2014 lalu, pernah terkena dampak erupsi Gunung Kelud yang menutup kompleks Bendungan Selorejo mengingat PLTA Selorejo berada di dalamnya sehingga turut terhenti pengoperasiannya.

Aliran Listrik yang dihasilkan dari PLTA Selorejo dikirim melalui Jaringan transmisi 70 kV digunakan untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan daerah Malang.

PLTA Selorejo ini memanfaatkan air Waduk Selorejo yang bersumber dari mata air Gunung Anjasmoro dan Gunung Argowayan, serta aliran sungai Konto. Aliran sungai ini juga dimanfaatkan oleh PLTA Mendalan dan PLTA Siman. Ketiganya berada di wilayah kabupaten Malang.

Seperti yang tertera dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), 2015 - 2014 disebutkan potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS)pada tahun 1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro Power Inventory Study pada tahun 1993.

Namun pada laporan Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun 2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut adalah 26.321 MW, yang terdiri dari proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956 MW) dan potensi baru (16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak begitu sulit hingga sangat sulit.