AS Puji Program Indonesia Terang

Senin, 2 Mei 2016 | 14:07 WIB | Ferial

EBTKE--Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Robert O Blake, memuji kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, dalam mempercepat Program Indonesia Terang (PIT) terutama di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT).

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Blake pada pertemuan dengan sejumlah mitra PIT, Jum’at, 29 April 2016.

“Saya memuji Program Indonesia Terang ESDM yang fokus pada sumber energi bersih,” ujar Blake dalam sambutannya. Ia mengapresiasi langkah stimulus yang ditempuh oleh Menteri ESDM memangkas 12 proses perizinan untuk proyek EBT. Blake menilai melalui teknologi, harga EBT mampu bersaing dengan eneri fosil di pasar global. “Ini kali pertama investasi global di bidang EBT mampu melebihi energi fosil,” tegasnya.

Selanjutnya, Dubes yang sudah tiga tahun bekerja untuk Indonesia ini menjelaskan beberapa langkah kerja sama Amerika Serikat di bidang EBT, yakni pembangunan pembangkit listrik berbasis EBT baik on grid maupun off-grid di kawasan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Barat melalui Green Prosperity Project, Millennium Challenge Corporation (MCC), dan Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-I).

Tidak cukup di situ, USAID dan Sustainable Energy for Remote Indonesian Grids (SERIG) juga turut andil membangun sejumlah pilot project untuk pengembangan teknologi Energi Bersih di tiga lokasi, yakni Lamandau (Kalimantan Tengah), Pulau Sabu dan Pulau Sumba (NTT). “Proyek-proyek ini sebagai proyek percontohan yang dapat memberikan pendidikan berharga dan peluang capacity building,” kata Blake.

Perkuat Kebijakan

Dubes AS tersebut memberikan beberapa rekomendasi kepada Kementerian ESDM untuk memperkuat kebijakan Program Indonesia Terang. Ia berharap kebijakan ini akan menjadi stimulus bagi para investor untuk bergabung dalam pengembangan EBT. “Rekomendasi kebijakan demi memfasilitasi pasar di Listrik Pedesaan (Lisdes),” ungkap Blake.

Pertama, membangun website yang mumpuni. Website tersebut menjadi acuan oleh para investor memahami tenggat waktu pengerjaan proyek. “Website perlu diperbaruhi secara berkala untuk memantau proyek-proyek dan investasi baru,” Blake menambahkan.

Kedua, kebijakan yang diambil adalah melakukan penilaian atas sumber EBT di desa-desa yang dicanangkan sebagai PIT serta mengidentifikasi peluang untuk untuk pengembang EBT. Di samping itu, menyusun ketersedian data terkait biaya pembangkitan diesel lokal yang disubsidi sehingga pengembang mengetahui biaya yang lebih kompetitif.

Keempat, mengatur feed-in tarif pedesaan di setiap lokasi. “Ini akan mendorong para investor menerapkan teknologi EBT dengan biaya terendah menyesuaikan dengan kebutuhan lokasi,” kata Blake. Ia melanjutkan supaya Pemerintah menciptakan micro-utilitas, yakni gabungan antara pembangkit listrik, transmisi dan penjualan langsung ke end-user demi mengefesiensikan fungsi supaya scalable dan bankable.

Terakhir, Blake juga menyarakankan Pemerintah untuk membuat SOP yang jelas mulai dari timeline, eksekusi pengerjaan, dan ambang batas minimum untuk sistem uptime operasional serta memberikan mitigasi risiko keuangan.

Sumber : Website Kementerian ESDM