Hemat Energi Upaya Mencapai Energi Berkeadilan

Selasa, 30 Mei 2017 | 09:11 WIB | Nicko Yoga Permana

EBTKE-- Energi merupakan pintu gerbang menuju ke peradaban modern. Hampir tidak ada kegiatan manusia modern yang tidak menggunakan energi.

Lantaran, energi tidak hanya berfungsi sebagai alat dukung strategis dalam pembangunan suatu bangsa tetapi juga sekaligus berfungsi sebagai salah satu indikator kemajuan suatu bangsa.

Hal ini dikatakan oleh Direktur Konservasi Farida Zed dalam Acara Kampanye Hemat Energi “Potong 10%", di Makassar, Minggu, 21 Mei 2017.

"Kebutuhan energi nasional terus meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan pertumbuhan pembangunan dan pertambahan jumlah penduduk. Selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi energi rata-rata naik sebesar 7 persen per tahun dan sampai saat ini 94 persen dari kebutuhan energi nasional masih dipenuhi dari sumber energi fosil yang tidak terbarukan yaitu minyak bumi, gas bumi dan batubara,"ujar dia dalam sambutannya.

Namun, lanjut dia, di sisi lain, sumber daya energi fosil terus mengalami penurunan, dengan kondisi seperti itu Pemerintah terus melakukan upaya untuk mencari dan mengembangkan pemanfaatan sumber energi terbarukan guna menjaga stabilitas suplai energi dalam negeri.

"Di samping upaya untuk mencari alternatif sumber energi terbarukan, maka upaya untuk melakukan penghematan energi memiliki peran sangat strategis,"tutur Farida.

Menurut dia, besarnya potensi penghematan energi ini membawa masyarakat dunia bersepakat untuk menempatkan penghematan energi (energi efisiensi) sebagai sumber energi pertama (first fuel). "Hal ini sekaligus mengamanatkan bahwa sebelum kita menggunakan jenis energi apapun (termasuk energi terbarukan) maka yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah melakukan penghematan,"tambahnya

Dengan demikian, lebih lanjut Farida mengatakan, maka gerakan untuk melakukan penghematan energi bukan lagi sebagai sebuah retorika tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab moral pribadi, masyarakat, Badan Usaha dan seluruh komponen bangsa untuk melaksanakan penghematan dalam menggunakan energi.

"Di negara-negara maju, perilaku hemat energi sudah menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup sehari-hari,"tegasnya.

Sementara di Indonesia, Farida menjelaskan, hemat energi masih belum disadari manfaat dan peran strategisnya. "Bila kita menengok ke beberapa negara maju, gerakan hemat energi justru diinisiasi oleh masyarakat, melalui kelompok- individu untuk melakukan upaya penghematan energi. Hemat energi adalah menggunakan energi secara bijak yaitu efisien dan rasional tanpa mengurangi kenyamanan, kesehatan & produktivitas,"kata dia.

Berangkat dari kenyataan diatas, Farida menekankan, Aksi Gerakan Hemat Energi “Potong 10%” bertujuan untuk mendorong kesadaran masyarakat mengenai hemat energi dan menjadikan hemat energi sebagai gaya hidup. Hal ini merupakan upaya untuk mencapai energi berkeadilan.

"Dengan melakukan penghematan konsumsi energi, maka kita dapat memberikan akses energi kepada Saudara-Saudara kita yang berada di daerah terpencil,"tandasnya

Dari studi yang pernah dilakukan, lebih jauh, Farida mengungkapkan, terdapat potensi penghematan energi di berbagai sektor penggunaan energi seperti Rumah Tangga, Industri, Transportasi maupun di Gedung Komersial dan Fasilitas Umum dengan variasi mulai dari 10% - 40%. Menghemat 1 kilowatt hour (kWh) jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan dengan memproduksi 1 kWh.

"Apabila kita menghemat penggunaan energi sebesar 10% dari penggunaan saat ini sebagaimana tema dari kampanye kita hari ini, maka dapat menunda pembangunan pembangkit listrik sebesar 2 GW yang nilainya sekitar Rp 18,4 Triliun,"pungkasnya. (RWS)