Tetap Optimis Dapat Kembangkan Panas Bumi Indonesia, KESDM dan API Selenggarakan The 5th IIGCE 2017

Rabu, 2 Agustus 2017 | 15:27 WIB | Rakhma Wardani

Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal EBTKE bersama dengan Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) kembali menyelenggarakan  Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) pada tanggal 2-4 Agustus 2017 di Jakarta Convention Center dan dibuka oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pada hari ini, Rabu, 2/8.

Perhelatan panas bumi tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-lima dengan mengusung tema Moving Forward Under Current Challenges, Obstacles, and Opportunities Toward Achieving Geothermal Development 2025 Target, dengan menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, instansi pemerintah, pelaku bisnis, tenaga ahli dan akademisi.

Seperti kita ketahui bersama bahwa keenergian Indonesia saat ini berada dalam kondisi kebutuhan energi yang terus meningkat dan terus berkurangnya energi yang bersumber dari fosil. Dengan kondisi ini, kebutuhan energi yang bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi semakin mendesak. Indonesia dengan potensi EBT yang tinggi memiliki kesempatan untuk terus melakukan upaya pengembangan dan pemanfaatan EBT dalam rangka memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Panas bumi sebagai salah satu sumber energi EBT terbesar di Indonesia dan hampir dimiliki oleh seluruh wilayah di Indonesia, menjadi potensi terbesar untuk dikembangkan dan dikelola pemanfaatannya. Diakui oleh Abadi Purnomo, Ketua API, tahun ini merupakan tahun yang sulit dan lesunya pengembangan panas bumi Indonesia. Namun demikian, API dan Pemerintah tetap optimis hambatan yang ada dapat dilalui dengan kebersamaan dan kerja keras seluruh pihak.

Saat ini pengembangan EBT baru mencapai bauran energi  8-9% dari target 23% pada tahun 2025. Pemerintah mengakui bahwa bukan hal yang mudah untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Panas bumi menjadi harapan utama yang dapat memberikan kontribusi besar. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang COD telah mencapai 1700 MW dari potensi panas bumi 29.000 MW dan kondisi ini diusahakan semakin meningkat dalam waktu yang cepat.

"WKP yang sudah berproduksi akan kita dorong terus dan Pemerintah tetap mempertimbangkan harga keekonomian yang fair baik bagi masyarakat sebagai pengguna maupun bagi produsen," tutur Ignasius Jonan, Menteri ESDM dalam sambutannya dalam pembukaan IIGCE. "Kami berharap dukungan dari sektor dan stakeholder lain seperti Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian untuk dapat mereduksi bea masuk dan pajak lain yang digunakan untuk pengembangan EBT khususnya bidang panas bumi", tambahnya di depan seluruh hadirin yang berasal dari berbagai DPR, Kementerian/Lembaga, Duta Besar negara sahabat untuk Indonesia, pengembang usaha panas bumi, dan institusi lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri ESDM menyaksikan penandatangan Nota Kesepahaman PT PLN (Persero) dan PT Geo Dipa Energi (Persero), Amandamen Perjanjan Jual Beli Listrik Panas Bumi, pengumuman Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani oleh Menteri ESDM dan Menteri Keuangan, penyerahan 2 Surat Keputusan (SK) Penugasan dari Menteri ESDM kepada BUMN untuk mengembangkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), dan penyerahan SK dari Menteri ESDM kepada Gubernur NTT tentang Penetapan Pulau Flores sebagai Flores Geothermal Island serta penyerahan 3 Izin Panas Bumi.

Perhelatan The 5th IIGCE 2017 terdiri dari konvensi dan pameran bidang panas bumi dan akan ditutup dengan kunjungan lapangan ke PLTP Darajat pada hari ke-tiga. Semoga acara ini mampu menghasilkan ide-ide baru yang akan mendorong efisiensi dan produktivitas yang lebih baik agar harga listrik dari panas bumi dapat bersaing dengan harga energi primer lainnya sehingga mampu meningkatkan antusiasme usaha pengembangan panas bumi di Indonesia. Wakil Presiden RI mengharapkan IIGCE mampu menghasilkan diskusi yang mendukung pengembangan teknologi yang efisien, cepat dan memenuhi standar yang baik serta lebih ekonomis dari teknologi yang sudah ada. " Harga EBT memang masih lebih tinggi dari energi fosil, tetapi harga untuk lingkungan dan kesehatan tidak terbayarkan apabila kita tidak mampu memenuhi unsur-unsur tersebut," tegas Wapres dalam akhir sambutannya. (RWS)