Demonstrasikan Peluang Tercapainya 23% Bauran Energi Terbarukan di 2025, Indonesia-Jerman Luncurkan Proyek Kerjasama

Kamis, 3 Agustus 2017 | 16:12 WIB | Rakhma Wardani

Ditjen EBTKE dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH atas nama Kementerian Federal Jerman untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) meresmikan sebuah proyek kerjasama bernama Renewable Energy for Electrification Programme (REEP) di Jakarta, 2/8.

Proyek REEP yang akan berlangsung selama empat tahun ini bertujuan untuk mendemonstrasikan peluang tercapainya porsi energi terbarukan sebesar 23 persen ke dalam bauran energi nasional di tahun 2025. Proyek ini menggunakan pendekatan bottom-up yang direncanakan sesuai dengan kondisi listrik di Indonesia.

Perencanaan bottom-up dilakukan dengan memilih dua jaringan pulau terisolasi untuk menciptakan pembelajaran (lesson learned) yang dapat dijadikan rekomendasi kepada Pemerintah untuk penyusunan regulasi baru dan/atau peninjauan kembali peraturan terkait yang saat ini ada.

Dalam pelaksanaannya, proyek ini menggandeng mitra utama yaitu Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK), PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan pemerintah daerah (PEMDA).

“Pemerintah memiliki banyak kerjasama dengan negara-negara yang telah berhasil mengembangkan porsi bauran energi terbarukan dan saya berharap agar proyek REEP bisa mengakomodir kebutuhan kelistrikan Indonesia di masa depan,” kata Maritje Hutapea, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan dalam sambutan pembukaannya.

Senada dengan Maritje, Direktur GIZ untuk Program Energi Indonesia/ASEAN Bapak Rudolf Rauch optimis Indonesia bisa mencapai target energi terbarukan meskipun ada beberapa tantangan. “Saya mengerti ada pihak yang mempertanyakan prospek pencapaian bauran energi terbarukan saat ini, tapi semua negara yang baru memulai pengembangan energi terbaukan juga memiiki kekhawatiran yang sama,” katanya.

Negara lain seperti Jerman telah memberikan bukti kesuksesan pengintegrasian energi terbarukan dengan melakukannya selangkah demi selangkah dan saat ini Jerman memiliki bauran energi terbarukan sebanyak 33 persen. “Indonesia tentu dapat melakukannya karena negara ini memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah jika dibandingkan dengan negara seperti Jerman,” tambah Rauch.

Untuk mencapai tujuan proyek REEP diperlukan kolaborasi dari semua pemangku kepentingan, bukan hanya dari pemerintah, tapi juga dari independent power producers, penyedia teknologi dan jasa, masyarakat sipil, akademisi dan juga lembaga penelitian dan pengembangan.

REEP adalah sebuah proyek yang didanai oleh BMZ dengan total jumlah kontribusi yang diberikan untuk proyek ini sebesar EUR 5,000,000. (RWS)