Mahasiswa dan Universitas Salah Satu Mitra Strategis Pengembangan EBTKE

Jumat, 6 Oktober 2017 | 09:37 WIB | Rakhma Wardani

 

TEGAL – Pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) membutuhkan dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan, termasuk mahasiswa dan universitas. “Kemitraan strategis dari semua pihak sangat penting dalam upaya pengembangan EBTKE. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23% pada tahun 2025. Dibutuhkan peran aktif dari akademisi dan universitas dalam mendorong inovasi teknologi dan pemanfaatan EBT,” ungkap Kepala Bagian Rencana dan Laporan, Qatro Romandhi, mewakili Direktur Jenderal EBTKE pada Seminar Nasional “Pengembangan Energi Alternatif di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”, di Tegal, Kamis (6/10).

Qatro menyampaikan bahwa EBT memiliki peran penting dalam target peningkatan penyediaan energi yang setara 45 GW pada tahun 2025, percepatan penyediaan akses energi modern untuk mencapai target rasio elektrifikasi sebesar 97% pada tahun 2025, memberikan kontribusi sebesar 314 juta ton CO2 dalam program penurunan Gas Rumah Kaca (GRK), dan sebagai pendorong ekonomi hijau.

Energi merupakan instrumen untuk mewujudkan keadilan sosial dan harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan daya saing industri. Oleh karenanya pemanfataan EBT menjadi keharusan, EBT tidak lagi hanya sebagai energi alternatif. Kementerian ESDM berupaya untuk meminimalisasi subsidi energi dan melaksanakan pemangkasan dan simplikasi perizinan untuk meningkatkan investasi energi terbarukan agar pada akhirnya energi yang tersedia dapat dimanfaatkan masyarakat secara merata dan terjangkau.

Salah satu tantangan sekaligus peluang yang dihadapi dalam pengembangan EBTKE adalah perlunya mengintensifkan kerjasama teknis dengan pihak luar negeri dalam rangka transfer of technology dan pengembangan ESDM. “Kami sangat memerlukan dukungan universitas sebagai salah satu mitra strategis pemerintah untuk menyiapkan generasi mahasiswa untuk melakukan terobosan inovasi teknologi sekaligus menyiapkan inkubator untuk komersialisasi. Universitas juga dapat melakukan survei dan kajian potensi EBTKE, kajian kebijakan, dan kajian teknologi sebelum dikembangkan Pemerintah,” tutur Qatro.

Selain itu, sebagai penerima manfaat, mahasiswa dan univeritas dapat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan EBTKE dan diseminasi informasi pemanfaatan EBTKE. “Kami juga mengharapkan mahasiswa dapat menjadi agen hemat energi, melaksanakan perilaku hemat energi dan menularkannya ke komunitas sekitar,” tutup Qatro.

Seminar Nasional “Pengembangan Energi Alternatif di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal pada tanggal 5-7 Oktober 2017 sebagai bagian acara Machine Day’s, sekaligus perkenalan awal dan kali pertama Universitas tersebut dalam seminar nasional. Kedepan, setiap tahunnya akan diadakan acara serupa terkait EBT. (RWS)