2022, EBT diprediksi berkontribusi 43 persen terhadap energi dunia

Tuesday, 10 October 2017 | 09:54 WIB | Bambang Wijiatmoko

Paris - Badan Energi Internasional (IEA) telah menaikkan tingkat prediksi kontribusi energi baru terbarukan (EBT) menjadi 43 persen atau total lebih dari 920 GW hingga 2022. Prediksi ini menyusul rekor pencapaian energi terbarukan selama tahun 2016 yang sebagian besar didorong oleh lonjakan kapasitas fotovoltaik surya (PV) China, India dan Amerika Serikat.

Kebijakan pendukung energi rendah karbon dan pengurangan biaya untuk solar PV dan angin mengakibatkan proyeksi pertumbuhan mengalami kenaikan 12 persen lebih dari perkiraan IEA tahun lalu.

Pada 2016, tambahan bersih untuk kapasitas EBT termasuk tenaga air, tenaga surya, angin, bioenergi, dan gelombang tumbuh sebesar 165 GW atau enam persen lebih banyak dari 2015.

Adapun kapasitas solar panel tumbuh 50 persen atau lebih dari 74 GW. Kondisi ini merupakan rekor penambahan PV pertama kali lebih cepat daripada bahan bakar lainnya, bahkan melebihi pertumbuhan batubara.

"Kami melihat energi terbarukan tumbuh sekitar 1.000 GW pada tahun 2022, yang setara dengan setengah dari kapasitas global saat ini dalam kekuatan batubara," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.

Birol berharap bahwa pertumbuhan kapasitas PV surya akan lebih tinggi daripada teknologi EBT lainnya sampai tahun 2022.

IEA melihat pembangkit listrik EBT meningkat lebih dari sepertiga menjadi 8.169 Terawatt Hour (TWh) pada 2022. Tahun 2016, pencapaiannya lebih dari 6.012 TWh atau setara dengan konsumsi listrik gabungan China, India dan Jerman.

EBT akan mencapai 29 persen dari campuran energi global dalam waktu lima tahun, dibandingkan dengan perkiraan 24 persen tahun lalu.

Batubara akan tetap merupakan sumber pembangkit listrik terbesar di tahun 2022. Namun, kontribusi EBT akan meningkat. Jika pada 2016, penggunaan EBT 34 persen lebih rendah, namun pada tahun 2022 selisihnya menjadi 17 persen. (BW/Ant)