Indonesia memiliki potensi pengembangan PLTBg besar

Saturday, 16 December 2017 | 08:41 WIB | Bambang Wijiatmoko

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arcandra Tahar, hari ini Jumat (15/12) melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yakni ke Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di Jangkang dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Nyuruk, di Kabupaten Belitung Timur.

Dalam kunjungannya ke PLTBg di Jangkang, Wamen ESDM kembali menyampaikan meningkatnya minat investasi energi terbarukan, khususnya pada wilayah yang Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Wilayah nya lebih tinggi dari BPP Nasional, salah satunya di Provinsi Bangka Belitung ini.

Arcandra mencontohkan, untuk di wilayah Bangka Belitung yang BPP wilayahnya adalah tertinggi di Sumatera (Rp 1.907/kWh) maka harga pembeliaan untuk listrik energi terbarukan ke PLN adalah 85% atau Rp 1.621/kWh. "Biaya produksi PLTBg (Jangkang) ini bahkan lebih rendah dari BPP setempat, ini menarik," lanjutnya. Sebagaimana diketahui listrik dari PLTBg Jangkang ini dijual ke PLN dengan harga Rp 975/kWh.

 

Arcandra Tahar menyatakan, PLTBg itu merupakan yang pertama kali dan menjadi satu-satunya di Indonesia. Pembangkit listrik semacam ini akan dikembangkan lebih banyak lagi. "Pembangkit biogas ini dibangun pertama kali di Indonesia. Pertama dan satu-satunya. Ini the leader," Jelas Arcandra.

PLTBg yang dioperasikan AANE di Desa Jangkang, Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur ini merupakan anak perusahaan dari PT Austrindo Nusantara Jaya(ANJ) yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit. AANE didirikan pada tahun 2009 dan bertugas untuk mengolah limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) yang dihasilkan oleh ANJ untuk menjadi listrik.

 

 

Pada tahun 2013, AANE menandatangani kontrak penjualan listrik dengan PLN dan merupakan pengembang biogas pertama yang menjual listrik secara komersial. Pada tahun 2016, kapasitas PLTBg AANE sebesar 1,8 MW untuk 2.000 rumah tangga dengan kapasitas 900 VA. (BW)