China dan India Berbagi Pengalaman Soal Target dan Program Konservasi Energi

Rabu, 14 Maret 2018 | 18:47 WIB | Dian Lorinsa

JAKARTA – Para pakar konservasi energi dari China dan India berbagi pengalaman mengenai penerapan efisiensi energi di negara mereka sebagai masukan dan studi banding untuk memperkuat kebijakan dan program konservasi energi di Indonesia. Kegiatan sharing session yang difasilitasi oleh World Bank ini, membahas pelaksanaan kewajiban efisiensi energi bagi sektor pengguna energi, yaitu industri dan bangunan gedung.

Direktur Konservasi Energi, Sugeng Mujiyanto, dalam kesempatan ini mengemukakan bahwa Direktorat Konservasi Energi berencana melakukan revisi PP 70/2009 tentang Konservasi Energi dan saat ini mengharapkan masukan dari berbagai pihak terkait revisi ini. “Saat ini Direktorat Konservasi Energi jika diibaratkan seperti membangun power plant, sudah mencapai kapasitas sebesar 1.028 MW”, ungkap Sugeng.

Expert konservasi energi China, Xiao Dong Wang, mengungkapkan bahwa target efisiensi energi di China ditentukan dalam 3 jenis target jangka panjang, yaitu pengembangan keberlanjutan, perubahan iklim dan pengurangan polusi udara. Pemerintah China, yang biasa disebut Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah menargetkan capaian efisiensi energi di masing-masing propinsi dan dilakukan pengawasan dan dilakukan penilaian terhadap capaian yang didapat. Pemerintah Pusat dalam memonitor dan dan menegakkan aturan, melakukan pengukuran efisiensi energi dan verifikasi di level proyek dan perusahaan, serta melakukan verifikasi di level provinsi. Telah dibentuk beberapa regulasi terkait efisiensi energi antaralain tentang Hukum koservasi energi, peningkatan efisiensi pembangkit batubara, standar dan label efisiensi energi energi serta perizinan terkait investasi.

Dr. Krisna, selaku pakar konservasi energi, mengungkapkan metode yang digunakan India dalam efisiensi energi, antaralain skema PAT (perform, achieve, trade) untuk industri efisiensi energi, penghitungan biaya dan fiskal serta Energy Efficiency Service Limited  (EESL) dan inisiatifnya. India memiliki 8 misi dalam kerangka National Action Plan on Climate Change, salah satunya National Mission for Enhanced Energy Efficiency, antaralain berfokus untuk skema PAT, Energy Efficiency Financing Platform (EEFP), Market transformation for Energy Eficiency (MTEE) serta Framework for Energy Efficiency Economic Development (FEEED).

Dalam forum ini, didiskusikan pula beberapa area strategis untuk meningkatkan inisiatif efisiensi energi, bahwa kewajiban untuk efisiensi energi wajib diatur melalui peraturan hukum dan standar-standar yang dibuat. Penghitungan efek juga diperlukan untuk dapat meningkatkan kesadaran, perilaku, market transformation, dan peran top manajemen dalam efisiensi energi. Peningkatan inisiatif efisiensi energi juga dapat dilakukan melalui kerjasama public-private untuk mendukung dan mengimplementasikan efisiensi energi, memanfaatkan ESCO (Energy Service Company). Peningkatan teknologi dan sosialisasi pentingnya efisiensi energi juga turut diperlukan. (DLP)