Geothermal Goes To Campus Kembali Hadir di Universitas Jambi

Kamis, 29 Maret 2018 | 17:12 WIB | Dian Lorinsa

 

JAKARTA – Kegiatan transfer knowledge bidang panas bumi bagi mahasiswa yang dikenal dengan nama Geothermal Goes to Campus (GGTC), kembali dilaksanakan pada Rabu lalu (28/3), di Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi. Kegiatan ini adalah kali kedua dilaksanakan di Universitas Jambi, sebagai wujud menjawab antusiasme mahasiswa dan dosen yang sangat antusias dengan program Geothermal Goes to Campus pada tahun 2016.

Hadir pada kegiatan ini, Direktur Panas Bumi, Ida Nuryatin Finahari dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Prof. Drs. H. Sutrisno, M.Sc., Ph.D., serta mahasiswa-mahasiswi program studi teknik geologi, teknik geofisika, dan teknik pertambangan.

Menghadirkan tema yang semakin beragam, selain mengangkat tema yang berkaitan dengan keteknikan seperti geologi, geofisika maupun manajemen reservoir panas bumi juga menghadirkan tema keekonomian panas bumi, yang akan semakin menambah wawasan mahasiswa yang hadir. Penyelenggaraan GGTC kedepannya diharapkan tidak terbatas bagi mahasiswa-mahasiswi jurusan teknik namun dapat menjangkau mahasiswa jurusan yang terkait dengan pengembangan panas bumi seperti jurusan keuangan, manajemen, hukum, dan lainnya.

Program ini diharapkan akan membangun minat mahasiswa lintas jurusan terhadap perkembangan bisnis panas bumi di Indonesia. Tidak hanya melahirkan tenaga ahli bidang keteknikan panas bumi tetapi juga tenaga profesional bidang lainnya. Sehingga dimasa mendatang pengembangan panas bumi Indonesia akan dikembangkan oleh anak negeri bukan lagi asing.

Provinsi Jambi memiliki potensi Panas Bumi 255 MW, yang terdiri dari Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Sungai Penuh 145 MW dan WKP Graho Nyabu 110 MW. Potensi yang besar ini apabila dapat dimanfaatkan dengan baik akan menjadi penyokong ekonomi provinsi Jambi khususnya untuk penyediaan listrik, tidak hanya bagi rumah tangga tetapi juga industri.

“Untuk mengembangkannya tentu dibutuhkan sumber daya manusia profesional yang kompeten, lebih dari itu diharapkan akan muncul tenaga ahli lokal yang akan mengembangkan daerahnya untuk masa depan yang lebih baik, oleh karena itu penyelenggaraan Transfer Knowledge yang berkelanjutan penting dilaksanakan agar mahasiswa mendapat pengetahuan lebih luas dari para tenaga ahli panas bumi,” terang Direktur Panas Bumi, Ida Nuryatin Finahari. (DLP)