Direktur Aneka EBT Paparkan Kemudahan Investasi dan Strategi Pemerintah di Hadapan Pengusaha EBT Norwegia

Thursday, 12 April 2018 | 16:31 WIB | Humas EBTKE

 

JAKARTA - Pemerintah Indonesia terus berupaya mendorong investasi energi terbarukan melalui kemudahan perizinan dan berbagai insentif  pajak. Hal ini diungkapkan Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Harris pada Indonesia - Norway Clean Energy Workshop pada Kamis (12/4). "Saat ini Pemerintah terus melakukan penyederhanaan regulasi perizinan maupun non perizinan sub sektor EBTKE, selain itu, untuk mendukung investasi EBTKE, Pemerintah Indonesia memberikan insentif berupa fasilitas pajak penghasilan, pembebasan bea masuk, serta yang terbaru adalah pemberian fasilitas pengurangan pajak penghasilan," ujar Harris.

Di hadapan pelaku industri energi terbarukan dari Indonesia dan Norwegia, Harris menjelaskan bahwa Indonesia memiliki komitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sejumlah 314-398 juta ton CO2 pada tahun 2030 yang diamanatkan pada Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement. Seperti kita ketahui bahwa pemanfaatan EBT berperan dalam peningkatan penyediaan energi, percepatan penyediaan akses energi modern, serta berkontribusi dalam program penurunan GRK. Sementara itu, kapasitas terpasang saat ini baru mencapai sekitar 60ribu MW  dari potensi EBT yang dimiliki sebesar 441,7 GW. Oleh karenanya Pemerintah mengharapkan dukungan semua pihak, termasuk pelaku industri dalam dan luar negeri dalam pengembangan energi terbarukan dan pencapaian target penurunan emisi GRK.

"Salah satu strategi percepatan EBT yang dilakukan Pemerintah adalah menentukan prioritas pengembangan EBT, yaitu panas bumi, hidro, bioenergi, surya dan angin. Pemerintah juga memberikan penugasan kepada BUMN dan Badan Layanan Umum serta memberikan fasilitas private-PLN, serta melaksanakan program elektrifikasi melalui pembagian Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE)," tambah Harris.  Saat ini, Pemerintah juga melakukan percepatan elektrifikasi di perdesaan yang belum berkembang, terpencil, perbatasan dan pulau kecil berpenduduk melalui pelaksanaan penyediaan tenaga listrik untuk skala kecil sebagai implementasi Permen ESDM Nomor 38 Tahun 2016.

Harris berharap pertemuan ini dapat menjadi momen untuk mendorong perusahaan Norwegia bertemu dengan pelaku industri energi terbarukan di Indonesia dan membuka peluang kerja sama yang nyata dalam pengembangan EBT.

Norwegia sendiri memiliki beragam potensi energi terbarukan, yaitu tenaga angin, panas bumi, tenaga arus laur, serta bioenergi. Sebanyak kurang lebih 98% tenaga listrik Norwegia berasal dari tenaga air. Norwegia memiliki sedikit potensi tenaga surya, namun merupakan salah satu produsen panel surya terbesar.

Clean Energy Workshop merupakan bagian dari Indonesia-Norway Energy Workshop yang merupakan hasil kolaborasi Ditjen Minyak dan Gas Bumi, Ditjen EBTKE dan Kedutaan Besar Norwegia sebagai upaya peningkatan kerja sama sektor energi antara Indoneia dan Norwegia. Workshop on Clean Energy kali ini dapat dikatakan merupakan pertemuan lanjutan dari Seminar on Renewable Energy yang telah dilaksanakan pada tahun 2017 di Jakarta. (RWS)