Hadirnya Pembangkit Energi Terbarukan di Sulsel, Hasil Nyata Untuk Masyarakat

Rabu, 9 Mei 2018 | 18:39 WIB | Humas EBTKE


JENEPONTO - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan hari ini (9/5) meresmikan 21 Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Energi Terbarukan se-Sulawesi Selatan yang berbasis air (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro-PLTMH) dan surya (Pembangkit Listrik Tenaga Surya-PLTS Terpusat) serta 15 titik sumur bor air tanah, yang dipusatkan di Desa Batujala, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Propinsi Sulawesi Selatan.


Adapun 21 unit PLT Energi Terbarukan yang diresmikan berkapasitas total 1.688 kW, total sambungan 4.926 rumah dengan nilai aset sebesar Rp 136.528.768.595, tersebar di Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan dan dibangun menggunakan APBN tahun 2017.

Dalam sambutannya Menteri ESDM berpesan agar warga dapat menjaga dan merawat infrastruktur yang ada dengan baik karena infrastruktur ini dibangun menggunakan uang rakyat dan dikembalikan lagi ke rakyat. "Amanat Presiden Joko Widodo, bahwa pelayanan diprioritaskan langsung ke masyarakat. APBN untuk sebesar-besarnya untuk rakyat. Ini hasilnya nyata untuk masyarakat," tegas Jonan dalam sambutannya pada peresmian tersebut.

Pada tahun anggaran 2016 – 2017, Direktorat Jenderal EBTKE telah melaksanakan pembangunan PLT Energi Terbarukan di 27 lokasi pada 5 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, dengan rincian sebagai berikut:

- Kabupaten Kepulauan Selayar: 7 Unit PLTS Terpusat dengan total kapasitas 750 kWp yang melistriki 2.301 KK;

- Kabupaten Luwu Timur: 2 Unit PLTS Terpusat dengan total kapasitas 80 kWp yang melistrik 311 KK;

- Kabupaten Pangkajene Kepulauan: 8 Unit PLTS Terpusat dengan total kapasitas 505 kWp yang melistriki 1.443 KK;

- Kabupaten Sinjai: 4 Unit PLTMH dan 1 Unit PLTS Terpusat dengan total kapasitas 388 kW yang melistriki 946 KK;

- Kabupaten Takalar: 5 Unit PLTS Terpusat dengan total kapasitas 260 kWp yang melistriki 1.113 KK

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan didasarkan pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Kegiatan Fisik Pemanfaatan EBTKE, yang pada tahun ini direvisi dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2018. Permohonan pembangunan infrastruktur EBTKE diajukan oleh Pemerintah Daerah kepada Menteri ESDM c.q Direktur Jenderal EBTKE beserta dokumen pendukung lainnya.

Menurut Jonan, Sulawesi Selatan merupakan provinsi pelopor EBT. "Setelah PLTB Sidrap 75 MW, PLTB Tolo I 72 MW, dan diharapkan Sulawesi Selatan yang kaya dengan pohon aren ini juga nantinya akan menjadi produsen campuran bensin, sekaligus menumbuhkan ekonomi masyarakat. Kita dorong campuran 5% bioetanol untuk bahan bakar agar langit Sulawesi Selatan tetap biru," ujar Jonan.

"Pada tahun ini memang pembangunan PLTS dan PLTMH akan lebih banyak dilaksanakan oleh PLN. Tetapi Pemerintah Sulsel tetap bisa mengajukan permohonan kepada kami. Selain PLTS dan PLTMH, kami juga menyediakan Penerangan Jalan Umum (PJU) Tenaga Surya, ini juga bisa diajukan permohonannya kepada kami," tambah Jonan.

Bersamaan dengan kegiatan seremonial peresmian di Batujala, dilakukan pula video conference dengan masyarakat penerima manfaat PLTS Terpusat yakni Desa Mattiro Baji, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene Kepulauan.


Sebelum adanya PLTS Terpusat ini, untuk kebutuhan listrik dan penerangan di Desa Mattiro Baji, masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan menggunakan genset swadaya dengan pengeluaran masing - masing Rp 4.000/KK/hari atau sekitar Rp 120.000/KK/bulan untuk pembelian bahan bakar minyak. Setelah adanya PLTS Terpusat, masyarakat desa hanya mengeluarkan iuran masing - masing Rp 20.000/KK/Bulan, yang digunakan untuk biaya pemeliharaan PLTS oleh 1 orang operator.

Listrik dari PLTS Terpusat selain dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat yang berada di Desa Mattiro Baji dengan daya masing - masing 600 Wh, juga dimanfaatkan untuk fasilitas umum yakni Rumah Ibadah, Puskesdes, MCK, Balai Desa dan Sekolah dengan daya yang berbeda-beda sesuai kebutuhan. (RWS)