Diskusi Alternatif Pemanfaatan Biogas Berbasis POME

Thursday, 4 October 2018 | 19:44 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi yang berkontribusi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca melalui penangkapan gas metana dan pengubahan biogas menjadi energi listrik. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Bioenergi, Andriah Feby Misna dalam Talk Show yang bertajuk Alternatif Pemanfatan Biogas Berbasis Limbah Cair Kelapa Sawit pada Kamis (4/10) di Jakarta.

"Salah satu sumber bahan baku bioenergi itu kelapa sawit, menurut data kami lahan kelapa sawit di indonesia 14 juta hektar yang mampu menghasilkan 146 juta ton setiap tahun nya, kemudian diolah menjadi 35 juta ton Crude Palm Oil (CPO), 28,7 juta ton limbah cair (Pome), kemudian 26,3 juta ton, dan 18 juta ton fiber yang dihasilkan setiap tahunnya, " tutur Feby.

"Yang sudah masif kita manfaatkan itu biodiesel yang dimanfaatkan dari CPO sekitar 15%. Dan saat ini indonesia sudah menerapkan B20 baik untuk sektor PSO dan Non PSO.  Disamping CPO kita juga bisa memanfaatkan limbah cair seperti POME dan beberapa pembangkit berbasis POME sudah dibangun, dan juga pembangkit berbasis kelapa sawit yang sudah beroperasi," lanjutnya.

Pemanfaatan biogas merupakan bagian dari energi terbarukan yang menjadi program Pemerintah dalam rangka meningkatkan akses energi bagi masyarakat melalui pemanfaatan Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBT) khususnya bioenergi. Hal tersebut jelas diamanatkan pada Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional yang menargetkan kontribusi EBT mencapai 23% dari total bauran energi nasional pada tahun 2025. Dari target bauran energi sebesar 23% tersebut, bioenergi diharapkan untuk berkontribusi sebesar 9.7% atau 23 MTOE (Metric Ton Oil Equivalent) dengan rincian sebesar 13,8 Juta KiloLiter Biofuels, 8,4 Juta ton Biomasa, dan  489,8 Juta M3 Biogas.

Potensi listrik yang dapat dibangkitkan dari pabrik kelapa sawit bisa mencapai hingga 15GW dimana 1,5 GW dari POME, dan hingga saat ini baru sekitar 30 MW yang baru termanfaatkan. Dari 30 MW ini pun ada yang on grid dan ada yang off grid, ada yang dimanfaatkan sendiri kemudian hasilnya dijual ke PLN, namun ada juga yang dibangun kemudian disambungkan ke PLN. 

Feby juga mengungkapkan bahwa target yang ingin dicapai untuk Pembangkit Listrik Tenaga berbasis Bioenergi pada tahun 2025 sebesar 5,5 GW. Hingga saat ini ada sekitar 1,8 GW PLT bio yang sudah terbangun dimana 213,6 MW on grid dan 1643,9 MW off grid, sementara untuk POME sekitar 22,8 MW on grid dan 9 MW off grid.

Oleh karenanya, talk show ini diharapkan dapat menjadi sarana diskusi yang efektif bagi semua pemangku kepentingan untuk mendiskusikan alternatif pengembangan POME yang tidak hanya untuk listrik tetapi manfaat untuk produk-produk energi lainnya. Talk show ini merupakan  bagian dari kerjasama teknis antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM c.q. Ditjen EBTKE dengan Pemerintah Jerman c.q. Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH melalui Proyek Promotion of Least-Cost Renewables in Indonesia (LCORE-INDO) yang telah berlangsung sejak tahun 2012. Proyek ini juga mendapatkan dukungan pendanaan dari Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Konservasi Alam, dan Keamanan Nuklir (BMU).

Acara talk show bertujuan untuk menggali ide-ide inovatif dalam pemanfaatan biogas yang merupakan hasil dari pemanfaatan limbah pengolahan kelapa sawit yang dapat diubah menjadi energi listrik. Topik yang dibahas adalah mengenai pemanfaatan biogas untuk boiler burner, memaksimalkan pemanfaatan limbah pengolahan kelapa sawit untuk energi dan lumpur keluaran unit digester sebagai biofertilizer, dan BioCNG (biomethane) untuk bahan bakar kendaraan dan biogas bottling system.

"Harapan dari kegiatan ini kita dapat melihat tantangan dan peluang kedepannya yang akan kita hadapi, dan kami dari sisi pemerintah mengharapkan dari diskusi ini bisa membuahkan hasil untuk mewujudkan Kebijakan Energi Nasional (KEN)  dan masukan terkait langkah-langkah konkrit ataupun intervensi apa saja yang perlu kami ambil di sisi pemerintah, sehingga kedepannya pemanfaatan limbah cair ini bisa lebih kondusif," pungkas Feby. (RWS)