Revitalisasi Program Sumba Iconic Island, Sebuah Solusi Atas Evaluasi

Kamis, 25 Oktober 2018 | 23:02 WIB | Humas EBTKE

BALI - Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE)akan merevitalisasi Program Pengembangan Pulau Sumba sebagai Pulau Ikonis Energi Terbarukan (Program Sumba Iconic Island for Renewable Energy-SII) untuk mewujudkan pemerataan listrik yang berbasis energi baru dan terbarukan dan terjangkau bagi masyarakat Sumba. "Saya ingin merevitalisasi program ini, agar menjadi fokus perhatian seluruh pihak. Apa-apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi hambatan yang ada," ujar Direktur Jenderal EBTKE, Rida Mulyana saat memimpin Rapat Pleno ke-13 Program SII pada Kamis (25/10).

Program SII merupakan program multi pihak yang membutuhkan partisipasi dan kerja sama dari berbagai Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, swasta dan Lembaga non-pemerintah. Oleh karenanya Rida menyerukan semua pihak untuk mengevaluasi kembali keistimewaan program ini. "Dengan penetapan Sumba sebagai ikonis energi terbarukan, benar tidak program ini memiliki privilege. Kalau memang punya privilege, semua pihak harus memiliki program prioritas untuk mewujudkan target yang tercapai. Selain itu, Program SII seharusnya selaras dengan rencana kerja masing-masing pemangku kepentingan," tuturnya.

Program SII yang diinisiasi oleh Kementerian ESDM, Bappenas dan Hivos sejak tahun 2011 ini adalah salah satu wujud keberpihakan Pemerintah untuk menciptakan pemerataan pembangunan di pulau-pulau terluar dan daerah tertinggal melalui peningkatan akses energi yang berkelanjutan.

Inisiasi revitalisasi muncul sebagai upaya mencari solusi atas evaluasi capaian Program SII. Walaupun rasio elektrifikasi dan bauran EBT mengalami peningkatan di Pulau Sumba karena implementasi Program SII, namun capaiannya masih jauh dibawah target yang telah ditetapkan, yaitu 95% rasio elektrifikasi pada tahun 2020.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan selaku Ketua Komite Pelaksana Program SII, Harris, melaporkan bahwa capaian rasio elektrifikasi sampai dengan tahun 2018 masih jauh dibawah target yang telah ditetapkan. "Saat ini rasio elektrifikasi Pulau Sumba telah meningkat dari 24,5% pada tahun 2010 menjadi 50,9% dengan kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi Sumba mencapai 20,9%. Total kapasitas terpasang pembangkit EBT di Sumba mencapai 9,3 MW dan total nilai investasi (termasuk non listrik) sebesar Rp. 722,4 milyar," ungkap Harris.

"Walaupun Rasio Elektrifikasi dan bauran EBT mengalami peningkatan di Pulau Sumba, namun capaiannya masih jauh dibawah target yang telah ditetapkan. Target ini sudah tidak realistis untuk dicapai, sehingga direkomendasikan untuk mengembalikan target Program SII ke time-frame awal yaitu 100% Rasio Elektrifikasi pada tahun 2025," tambahnya.

Pemerintah sendiri melalui Ditjen EBTKE telah melakukan beberapa pertemuan untuk menyelesaikan beberapa tantangan dan hambatan yang terjadi dalam mengembangkan energi terbarukan di Pulau Sumba. Beberapa rekomendasi yang dihasilkan antara lain investasi swasta (on-grid) di Pulau Sumba, pendanaan publik, operasionalisasi PLTBiomassa Bondohula 1 MW di Kabupaten Sumba Barat, pembentukan BUMN Pengelola Pembangkit EBT di Pulau Sumba.

Rida menyerukan pula pentingnya interaksi yang kuat untuk dapat dibangun semua pihak yang terlibat dalam Program SII. Perlu dibangun interaksi yang kuat antarpihak dan masing-masing pihak menempatkan dirinya sesuai fungsinya. Interaksi dibangun untuk memperkuat sinergitas demi mewujudkan penyediaan listrik yang merata bagi masyarakat Sumba. Untuk merealisasikan program-program yang telah disetting pada target SII dan akhirnya untuk mengatasi hambatan yang ada. “Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk melihat kembali, mengevaluasi program-program di masing-masing instansi, terlebih lagi kita akan mempersiapkan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) yang baru”, tutur Rida.

Program SII tidak berarti gagal karena secara tidak langsung, program ini juga memberikan dampak terhadap peningkatan perekonomian masyarakat, kesehatan, pendidikan, sosial, serta peningkatan inisiatif para pelaku usaha perhotelan atau industri pariwisata untuk mengembangkan pariwisata hijau yang berkelanjutan. Infrastruktur yang telah terbangun terdiri dari PLTMH, PLTS, PLTB, serta bentuk-bentuk pengembangan energi terbarukan lainnya seperti: biogas untuk penerangan dan memasak, kios energi (untuk pengadaan lampu SHS dan charging station), pembentukan unit RESCO, solar water pumping untuk irigasi pertanian, pompa Barsha untuk irigasi pertanian, smart Penerangan Jalan Umum (PJU) dan tungku hemat energi.

Ditjen EBTKE sangat mengapresiasi kerja sama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Daerah Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Diharapkan seluruh pihak yang terlibat dalam Program SII dapat memperkuat komitmen, saling menyemangati, meningkatkan kerja sama dan mengoptimalkan segala sumber daya yang dimiliki untuk mewujudkan visi, misi dan cita-cita Program SII. (RWS)