Wamen Archandra: Pemerintah Berusaha Memastikan Ketahanan Energi Nasional Dengan Pendekatan 4A

Senin, 29 Oktober 2018 | 15:43 WIB | Humas EBTKE

SINGAPURA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Archandra Tahar menyampaikan bahwa energi merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan Indonesia selalu berusaha memastikan ketahanan energi bagi seluruh masyarakatnya melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN). "Energi tidak lagi dipandang sebagai komoditas belaka, melainkan pendorong utama pertumbuhan perekonomian. Pemerintah Indonesia selalu berusaha semaksimal mungkin dalam memastikan ketahanan energi bagi seluruh masyarakat melalui pendekatan 4A, yaitu Availability, Accessibility, Acceptability, dan Affordability," ujar Archandra selaku Ketua Delegasi Indonesia pada pembukaan dan diskusi pertemuan 36th ASEAN Ministers on Energy Meeting and Associated Meetings (AMEM 36) yang dilaksanakan di Singapura (29/10).

Untuk merealisasikan faktor Availability (ketersediaan) dan Accessibility (keterjangkauan), salah satu prioritas Pemerintah Indonesia adalah pembangunan isfrastruktur dan sistem terkait, diantaranya dengan melaksanakan program elektrifikasi 35GW, kebijakan BBM satu harga, gas perkotaan dan rencana revitalisasi kilang minyak. Indonesia juga mengimplementasikan kebijakan mandatori B20 untuk semua sektor, perumusan peraturan kendaraan berlistrik, dan digitalisasi ketenagalistrikan.

Sementara untuk meningkatkan aspek Acceptability (keberterimaan), Pemerintah Indonesia mengimplementasikan teknologi energi bersih, contohnya dengan mengaplikasikan teknologi ultra super critical coal power plant, menerapkan efisiensi energi di semua sektor, dan meningkatkan peran EBT agar mencapai target pengembangan 23% pada bauran energi nasional pada tahun 2025.

"Saat ini, rasio elektrifikasi Indonesia adalah sebesar 97.13%. Pemerintah menargetkan realisasi rasio elektrifikasi sebesar 99.9% pada akhir tahun 2019. Hal ini dapat diraih dengan membangun fasilitas pembangkit listrik off grid berbasis EBT, melaksanakan program LTSHE, dan 14 listrik untuk masyarakat kurang mampu," tutur Archandra.

Terakhir, untuk merealisasikan aspek Affordability (keterjangkauan harga), Pemerintah menjamin bahwa harga listrik akan dipertahankan pada kisaran harga pada saat ini. Hal ini dapat diraih dengan melaksanakan obligasi pasar domestik untuk sektor batubara, menerapkan BPP pada pembangkit tenaga listrik, dan meningkatkan efisiensi energi di fasilitas-fasilitas pembangkitan tenaga listrik.

Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana yang turut hadir pada pertemuan AMEM 36 mengamini apa yang disampaikan Wamen Archandra. Indonesia percaya bahwa, selain upaya peningkatan ketahanan dan efisiensi energi nasional pada tiap-tiap negara anggota ASEAN, peningkatan kerjasama antar negara anggota ASEAN juga sama pentingnya, begitu pula peningkatan kerjasama antara negara anggota ASEAN dengan mitra wicara dan organisasi internasional lainnya. Selain itu, Indonesia juga setuju bahwa inovasi dan digitalisasi teknologi dapat membantu kita dalam mitigasi masalah di bidang energi di masa mendatang. (RWS/ASP)