Kerja Sama Strategis Indonesia – Jerman Sektor Energi Terbarukan

Rabu, 21 November 2018 | 13:42 WIB | Humas EBTKE

JAKARTADirektur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana, hari ini, Rabu (21/11) membuka secara resmi acara 2018 Indonesian – German Renewable Energy Day (RE Day) di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta. Forum ini merupakan salah satu ajang meningkatkan keterlibatan pihak swasta dengan membuka peluang kerja sama antara perusahaan Indonesia dan Jerman untuk bekerja sama di sektor energi terbarukan.

Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari lembaga Pemerintah dan lembaga terkait, PT. Perusahaan Listrik Negara, perusahaan energi terbarukan, lembaga think tank, lembaga pendanaan proyek dan asosiasi sektor energi terbarukan. RE Day diisi dengan kegiatan talkshow dan panel diskusioleh pemangku kepentingan terkait di sektor energi terbarukan untuk membahas pengalaman transisi energi fosil ke energi terbarukan di Jerman dan solusi-solusi apa yang dapat diadopsi oleh Indonesia yang saat ini sedang bertransisi menuju energi terbarukan.  Selain transisi energi, RE-Day juga membahas mengenai implementasi proyek energi terbarukan di pulau dengan beban di bawah 10 MW dan pulau dengan beban 10-100 MW.

Pada kesempatan ini juga dilangsungkan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) - Bundesverband Solarwirtschaft (BSW) dan Memorandum of Understanding antara Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) - Bundesverband Solarwirtschaft (BSW). Nota Kesepahaman ini meliputi perencanaan kerjasama lebih lanjut antara Asosiasi Indonesia dan Jerman terkait capacity building dan peran asosiasi dalam pengembangan EBT.

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mewujudkan energi yang adil, yang bertujuan untuk memberikan akses yang sama terhadap energi bagi semua orang Indonesia, melalui pengembangan infrastruktur energi dan mengoptimalkan potensi sumber energi lokal dengan ketersediaan terjamin, aksesibilitas, keterjangkauan dan keberlanjutan. Untuk mewujudkannya, Pemerintah melakukan upaya terbaik, diantara nya meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 99,9% pada 2019 dan memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan untuk menjamin keberlanjutan dan keterjangkauan energi.

Selama periode 2010 hingga 2018, rasio elektrifikasi meningkat dari 67,2% menjadi 98,05%. Namun bauran energi utama untuk pembangkit listrik masih didominasi oleh energi fosil, dengan batubara sebesar 58,64%, gas 22,48%, minyak 6,18%, dan energi terbarukan sekitar 12,71%. Untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan, Pemerintah melalui Kebijakan Energi Nasional telah menargetkan untuk meningkatkan peran energi terbarukan sebesar 23% dalam bauran energi nasional pada tahun 2025. Untuk mencapai target ini, sekitar 45 GW listrik akan dipasok oleh energi terbarukan pada 2025

“Kami menyadari bahwa untuk mencapai target yang ditetapkan, dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak diperlukan, termasuk dari negara-negara yang telah maju dalam pengembangan energi terbarukan, dukungan tersebut dapat berupa pendanaan, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas dan masukan untuk pengembangan kebijakan energi terbarukan di Indonesia. Jerman adalah salah satu mitra penting bagi Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan dan kerjasama yang telah terjalin antara Indonesia dan Jerman di sektor energi terbarukan sudah sangat lama dan berjalan sangat baik selama 25 tahun”, ungkap Rida dalam sambutannya.

Lanjutnya Rida berharap program kerjasama Indonesia dan Jerman dapat membantu Indonesia mengatasi tantangan dalam mengembangkan energi terbarukan dan meningkatkan kapasitas untuk mencapai target terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025. “Semoga forum indonesia-German Renewable Energy Day 2018 dapat memperkuat kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan Jerman di masa depan, baik di tingkat Pemerintah maupun bisnis, memberikan solusi transfer teknologi inovatif, implementatif dan replikatif untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia” pungkasnya.

Direktur Program Energi untuk GIZ/ASEAN Dr. Rudolf Rauch mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan luar biasa seperti tenaga surya jika dibandingkan dengan Jerman, namun realisasi energi surya di Indonesia saat ini hanya berkisar di 0.09 GWp, berkebalikan dengan Jerman, sebanyak 45 GW listrik dihasilkan oleh tenaga surya.

“Forum RE Day merupakan sebuah kesempatan bagi perusahaan-perusahaan Indonesia dan Jerman untuk terus bekerja sama untuk mendukung Pemerintah Indonesia mencapai kebutuhan energi nasional dengan meningkatkan energi terbarukan dengan biaya yang semakin terjangkau,” jelas Rudolf.

Saat ini sumber energi terbarukan di Indonesia sedang bergeliat mengikuti pergerakan dunia menuju energi terbarukan. Potensi panas bumi Indonesia mencapai 28.5 Giga Watt (GW) yang terdiri dari cadangan sebesar 17.5 GW dan sumber daya sebesar 11 GW dengan kapasitas terpasang hingga akhir 2018 sebesar 1,9 GW. Selain panas bumi, Indonesia juga memiliki potensi energi terbarukan lainnya seperti hidro yang mencapai 75 GW dengan realisasi 5.1 GW hingga akhir tahun 2018, bioenergi yang mencapai 32.6 GW dengan realisasi 1.8 GW, surya yang mencapai 207.8 GWp dengan realisasi sebesar 0.09 GWp dan tenaga angin yang berpotensi sebesar 60 GW dengan realisasi 76 MW. (DLP)