Kini Desa di Belu Bebas Dari Kegelapan Berkat LTSHE

Sabtu, 2 Februari 2019 | 10:10 WIB | Humas EBTKE


BELU - Dua desa di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akhirnya dapat merasakan terang, terutama di malam hari berkat Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE). Sebanyak 234 unit LTSHE telah dipasang di perumahan penduduk, menggunakan anggaran Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) tahun 2018.

Albertus, salah satu masyarakat penerima LTSHE, yang ditemui di sela acara simbolis penyerahan LTSHE kepada Pemkab Belu (Jumat,01/02), menceritakan bahwa sebelum LTSHE hadir, desa mereka sangatlah gelap. Warga menggunakan pelita dengan minyak tanah untuk penerangan pada malam hari. Dalam satu malam, dapat menghabiskan satu botol minyak tanah hanya untuk penerangan di malam hari dan kemampuan untuk membeli minyak tanah tersebut sangatlah terbatas.

"Dulu kami masyarakat Dusun Fatubesi sangat-sangat gelap sekali, banyak masyarakat yang mengatakan kami ini belum merdeka," ungkap Albertus. "Kalo ada uang, malam hari terang, kalo tidak ada uang, kami bakar api atau gelap sama sekali. Kadang-kadang susah cari minyak tanah, jadi kami bakar api supaya terang waktu makan sama keluarga," lanjutnya. Oleh karena itu kehadiran LTSHE yang dipasang di desa mereka sangatlah berarti dalam membantu aktivitas kehidupan masyarakat.

E.Widyo Sunaryo, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Politik, Hukum dan Keamanan yang hadir saat penyerahan LTSHE di Desa Maudemu, Kecamatan Lamaknen, mengungkapkan bahwa LTSHE merupakan program Pemerintah yang dilaksanakan untuk membangun Indonesia mulai dari wilayah pinggiran yang terletak di daerah terluar, tertinggal dan terpencil. "Memang seharusnya jalur listrik sudah bisa masuk kesini, mudah-mudahan tidak lama lagi jalur listrik sudah bisa sampai masuk kesini, sehingga nanti berbagai macam kegiatan rumah tangga dan wirausaha bisa dimulai," imbuh Widyo.

Tahun 2018, Kabupaten Belu mendapatkan porsi pemasangan LTSHE sebanyak 234 unit yang dipasang di Desa Rafae (89 unit) dan Desa Maudemu (145 unit). Pemerintah berharap pemasangan LTSHE di kedua desa tersebut dapat membantu masyarakat dalam beraktifitas di malam hari, seperti memberi penerangan saat anak-anak belajar dan ibu-ibu membuat kain tenun. Setelah penyerahan LTSHE ini, masyarakat diharapkan untuk memelihara dan merawat dengan baik agar tidak mudah rusak dan dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lama.

"Sebelum saya serahkan lampu ini, perlu saya ingatkan sekali lagi bahwa ini merupakan program dari Pemerintah pusat dan ini akan diteruskan pada program pembangunan infrastuktur di tahun 2019. Bapak ibu sekalian, nanti ketika lampu ini sudah diserahkan, tolong untuk dipelihara dengan baik supaya awet dan tahan lama," pungkas Widyo.

Ditjen EBTKE Kementerian ESDM menganggarkan sebesar Rp 595 miliar untuk Program Pembagian dan Pemasangan LTSHE tahun 2018 untuk menerangi 172.996 Kepala Keluarga (KK) yang belum terlistriki di seluruh Indonesia. Dalam penentuan calon penerima LTSHE, Ditjen EBTKE menggunakan Data Potensi Desa (Podes) yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) pada tahun 2014. Dalam data Podes tersebut, terdapat 2.519 desa di seluruh Indonesia yang masih gelap gulita, dimana terdapat 20 (dua puluh) desa, dengan jumlah 3.830 KK berada di Provinsi NTT.

Khusus Provinsi NTT, pada tahun 2018, Ditjen EBTKE telah selesai melaksanakan pendistribusian dan pemasangan LTSHE di 9 Kabupaten/Kota (Ende, Flores Timur, Lembata, Alor, Sumba Timur, Sumba Tengah, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Belu) dengan jumlah desa sebanyak 52 desa dan 4.293 KK penerima. (RWS/DLP)


Contact Center