Potensi Tempat Olah Sampah Setempat Sebagai Energi Alternatif

Jumat, 9 Agustus 2019 | 13:30 WIB | Humas EBTKE

BALI – Di tahun 2045, Indonesia diprediksi beralih dari pola pertumbuhan yang digerakkan oleh sumber daya serta bergantung pada modal dan tenaga kerja, menjadi pola pertumbuhan yang berbasis produktivitas tinggi serta inovasi. Menurut sumber dari IMF estimates for 2014, PwC projections for 2030 and 2050, tahun 2014, Indonesia berada di posisi 9 dari 10 negara yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB)/Gross Domestic Product (GDP) terbesar. Diproyeksikan di tahun 2030 akan meningkat ke posisi kelima, dan tahun 2050 akan bertengger di posisi keempat.

Dalam kebijakan energi, ada tiga pilar, yang pertama adalah energi berkeadilan, yaitu bagaimana mengupayakan kemampuan keterjangkauan masyarakat terhadap akses energi. Pilar kedua adalah ketahanan energi, seperti pasokan dan infrastruktur, dan pilar yang tak kalah penting adalah keberlanjutan lingkungan dan energi terbarukan. Target energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi primer sebesar 23% di tahun 2025 dan 31% di tahun 2050 merupakan target yang besar dan membutuhkan strategi dan upaya yang besar untuk mencapainya.

“Nah memang sekarang baru 8% capaian EBT dalam energi primer dan dalam pembangkit sekitar 12,7 %, nah ini terus terang memang banyak yang pesimis, banyak yang memperkirakan tahun 2025 baru 13-15%. Strategi kita adalah dengan menggunakan biofuel, Alhamdulillah biofuel kita yang berbasis sawit itu berkembang bagus. B20 berhasil dan semester pertama itu dibandingkan dengan target itu  sekitar 95%, kemudian tahun depan kita tingkatkan ke B30 kalau ini berhasil tahun 2025 itu ada tambahan 3%, kemudian kita mengarah juga ke green biofuel, kalau green biofuel itu adalah green gasolin, green biodiesel, green avtur jadi kalau dulu kilang-kilang minyak kita mengolah yang diambil dari perut bumi, ke depan mengolah palm oil atau vegetable oil, ini kalau berhasil menambah 1-2%”, demikian ungkap Dirjen EBTKE, F.X Sutijastoto dalam kegiatan seminar Tempat Olah Sampah Setempat untuk Listrik Kerakyatan hari ini (9/8) di Bali.

Selain itu, Dirjen Toto mejelaskan akan segera menggantikan PLTD dari diesel ke yang berbasis CPO. Untuk program Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) ditargetkan akan mengisi pembangkit-pembangkit yang akan tumbuh di berbagai daerah, yang diproyeksi dapat menyumbang 2-5% ke dalam capaian target EBT dalam bauran energi primer.

“TOSS ini kan ternyata juga bisa dicampur di batubara di PLTU, lah kalau ini bisa 1-3% aja masuk biomassa, sehingga ini bisa 25% bukan 23% lagi. TOSS ini akan berhasil, dan saya sangat semangat sekali, kita memang mencari energi-energi yang bisa kita masukkan untuk dikomersialisasikan. Jadi bisa membangun unit usaha-usaha yang bisa menghasilkan 3-5 juta ton, ini merupakan bisnis yang luar biasa, nanti langsung kita kawal. Nah inilah harapan saya yang 25% + 1-3% dari PLT batubara ini yang kita harapkan betul. Kita itu ternyata banyak lahan-lahan yang sub-optimal, kita butuh lahan berapa untuk lahan sub-optimal itu tinggal dipetakan saja”, pungkas Toto.

Oleh karenanya segera akan disusun Program Nasional Pengembangan Pellet Biomassa TOSS, yang kemudian memiliki 2 program, yaitu program co-firing dengan pellet biomassa pada eksisting PLTU target minimal sekitar 1-3%, kemudian program pengembangan PLT Biomassa sekala kecil untuk wilayah Indonesia secara masif terutama Indonesia Timur. Tujuannya adalah mengembangkan pellet biomassa hasil TOSS sebagai komoditas. Kemudian langkah-langkah biomassa TOSS yang perlu dilakukan, antaralain bahwa pellet biomassa kecil harus menjadi komoditi dahulu. Untuk menjadi komoditi, syaratnya harus mempunyai standar, yang wajib memiliki SNI nya. Kemudian pasokan pellet juga harus stabil, membangun rantai tata niaganya sangat penting sehingga semua harus dapat maju, semua harus dapat manfaat. Selanjutnya mengembangkan sistem dalam mekanisme tata niaga pellet, kemudian menyiapkan kebijakan dan peraturan bagi pengusahaan pellet TOSS, paling tidak harus keputusan Menteri, lalu apakah perlu ada aturan mandatori seperti B20, B30 misalnya P1,P2, atau P10 1-10% pellet. Inilah yang menjadi bagian dari studi mendatang. Untuk waktu uji coba, jangan hanya sampai menguji teknis saja tapi harus sambil menyiapkan ini semua agar pellet ini menjadi komoditi.

Dirjen EBTKE sangat menyambut baik inovasi TOSS. “Suatu inovasi yang sangat strategis dan bisa dikembangkan untuk solusi masalah sampah dan juga masalah energi di daerah-daerah dan ini pengelolaannya bisa dilakukan oleh masyarakat setempat oleh karena itu walaupun secara teknis sudah visible secara komersial harus dibuktikan, saya siap mendorong” ungkapnya.

Pada gelaran seminar, conference dan workshop yang diselenggarakan oleh startup company bidang energi dan ketenagalistrikan PT. PLN (Persero) yaitu PT Sentra Teknologi Terapan, yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan PT. PLN sekaligus afiliasi Sekolah Tinggi Teknik Perusahaan Listrik Negara (STT PLN), juga dilangsungkan penandatanganan Nota Kesepahaman antara PT Sentra Teknologi Terapan dengan PT Indonesia Power,  PT Hexa Integra Electrica, Asosiasi Profesi Pengelolaan Limbah Industri dan Emisi Indonesia, LPP PBNU, PT Kokoh Semesta, dan Universitas Udayana yang disaksikan oleh Direktur Jenderal EBTKE dan Komisaris Utama PT. PLN.

Kerjasama para pihak ini dititik beratkan pada Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang merupakan sebuah inovasi teknologi pengubah sampah menjadi energi yang sedang dikembangkan di Kabupaten Klungkung. Untuk pengembangan TOSS di Bali, Pemkab Klungkung merupakan tempat awal mulanya TOSS berkembang, yang kini sudah menyebar ke berbagai daerah lainnya di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. Untuk Pemkab Klungkung sendiri, pengembangan TOSS bekerjasama dengan LSM Maruta. (DLP)

 


Contact Center