Dasar Kebijakan Perluasan Pemanfaatan EBT Melalui Produktivitas dan Inovasi

Rabu, 27 November 2019 | 10:40 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Pemerintah berkomitmen untuk memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan, melalui kebijakan pertumbuhan berdasarkan produktivitas dan inovasi. Beberapa program yang telah dilakukan Kementerian ESDM antaralain pelaksanaan mandatori biodiesel yang semakin meningkat, program konversi pembangkit listrik mesin diesel menjadi pembangkit listrik berbasis CPO, program pengembangan pemangkit listrik dari limbah menjadi energi, dan penggunaan sistem pembangkit listrik tenaga surya. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial saat membuka Panel Diskusi II Pertamina Energy Forum (PEF) 2019 yang berlangsung di Jakarta (Selasa, 26/11).

“Saat ini Kementerian ESDM tengah melakukan penyempurnaan kebijakan, regulasi serta memberikan beberapa insentif seperti tunjangan pajak, tax holiday dan implementasi yang efisien untuk memungkinkan penetrasi energi dan investasi energi terbarukan yang lebih tinggi di Indonesia” pungkas Ego. Ia pun mengharapkan forum seperti PEF ini akan memperkaya pengetahuan dan informasi mengenai kemajuan teknologi, kebijakan dan investasi menuju pengembangan energi yang lebih hijau serta tren pasar dan perilaku pelanggan terutama di sektor energi. Selain itu, diharapkan PT. Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia dapat mencapai di luar target yang diberikan oleh Pemerintah dan bersaing secara global.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Konservasi Energi, Hariyanto menjelaskan bahwa program mandatori biodiesel diimplementasikan oleh Pemerintah salah satunya sebagai upaya mengatasi kondisi konsumsi energi fosil saat ini.

“Konsumsi bahan bakar nasional saat ini 1,6 juta barel per hari. Setengahnya dipasok dari dalam negeri, namun setengahnya lagi impor. Kita masih mencoba bagaimana mensubstitusi kebutuhan ini. Saat ini kami mencoba mensubtitusi dengan biodiesel,”ujar Hariyanto.

Mandatori B20 (komposisi 20% sawit dan 80% solar) telah berjalan sejak tahun 2016 dan sebentar lagi akan mulai dijalankan Mandatori B30. Menurut Hariyanto, Program Mandatori Biodiesel ini cukup berhasil, di tahun 2018 pemanfaatan biodiesel mencapai 3.5 juta KL dan tahun 2019 diperkirakan 6.7 juta KL, sehingga impor solar berhasil terus ditekan. Pengembangan produk biofuel berbasis CPO perlu segera ditingkatkan untuk terus menekan impor BBM sekaligus memperbaiki harga CPO.

Pengembangan penggunaan biofuel berbasis CPO sendiri dilakukan melalui 4 produk yaitu biodiesel (menggunakan campuran FAME), penggunaan biofuel berbasis CPO untuk pembangkit, pengembangan Green Diesel dan Green Gasoline. “Nantinya, diupayakan untuk mencapai ke Green Diesel dimana Green Diesel berasal dari 100% minyak sawit. Seiringan dengan itu, Indonesia dalam tahap menuju Kendaraan Listrik. Perpresnya sudah ada. Inilah yang nantinya dapat mensubtitusi konsumsi energi fosil saat ini,” tandas Hariyanto. Di sisi lain, Pemerintah juga memiliki target bagaimana mempercepat pengembangan dan pemanfaatan EBT pada ketenagalistrikan, seperti PLTa, PLTB, PLTS, dan PLTBm.

PEF 2019 merupakan merupakan forum diskusi energi, bagian dari rangkaian HUT ke-62 Pertamina tersebut diikuti oleh 1.000 peserta yang berasal dari seluruh stakeholders utama Pertamina di bidang energi, seperti para pemerintah, pelaku industri, pemilik teknologi, perwakilan negara-negara sahabat, dan pengamat energi.

"Pertamina Energy Forum merupakan sumbangsih dari Pertamina yang menjadi wadah untuk seluruh stakeholders dalam membahas isu-isu strategis bagi perkembangan sektor energi baik nasional maupun global. Di forum ini seluruh stakeholders utama dapat sharing pengalaman dan keilmuan  yang akan memberikan wawasan sehingga kita semua dapat menetapkan policy dan stratagi  yang tepat dalam pengembangan energi di Indonesia ke depannya,” ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam sambutan pembukaan PEF 2019.

Nicke mengungkapkan, hasil rekomendasi PEF tahun lalu yang bertema Unleashing Domestic Resources for Energy Security telah ditindaklanjuti dengan menggulirkan inisiatif dengan PT Bukit Asam Tbk  dan Air Product and Chemicals Inc  untuk mendirikan perusahaan joint venture yang bergerak di bidang bisnis pengolahan batubara dan produk turunan batubara untuk mengembangkan Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti LPG. Selain itu, Pertamina juga melakukan inovasi lain seperti membangun biorefinery dengan memanfaatkan kelapa sawit yang diolah menjadi biodiesel dan produk lainnya. (RWS/DLP)


Contact Center