Kerja Sama RI-Norwegia Ciptakan Peluang Pasar EBT

Senin, 9 Maret 2020 | 13:05 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA – Untuk memastikan target energi baru dan energi terbarukan (EBT) dapat dicapai, Pemerintah juga mempertimbangkan pendekatan dengan menciptakan pasar baru. Salah satu contoh adalah mengembangkan klaster ekonomi-maritim di pulau kecil dengan memanfaatkan sistem pembangkit listrik hybrid yang terdiri dari energi surya dan angin dengan baterai dan biomassa. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Harris saat menyampaikan sambutannya dalam kegiatan Renewable Energy Workshop 2020, yang digelar hari ini (9/3) di kantor Kementerian ESDM.

Pemerintah Indonesia mencoba untuk mengintegrasikan implementasi panel surya dan ekonomi lokal untuk menciptakan permintaan di daerah tersebut. Dengan mengembangkan kluster ini, pembangkit listrik tenaga surya tidak hanya ditujukan untuk memberikan listrik rumah tangga, tetapi juga untuk meningkatkan bisnis lokal seperti industri perikanan dengan membangun cold storage. Lebih lanjut Harris mengatakan bahwa Pemerintah juga melakukan pengembangan tenaga air. Pengembangan proyek energi hidro akan disinergikan dengan pengembangan industri strategis seperti industri mineral termasuk industri peleburan serta industri terkait hilir. “Kami akan mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga air Kayan yang memiliki total kapasitas sekitar 9000 MW yang terintegrasi dengan kawasan industri yang strategis dan juga untuk mendukung pasokan listrik untuk ibukota baru Indonesia di Kalimantan Timur”, pungkas Harris.

Kegiatan Renewable Energy Workshop 2020, merupakan kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal EBTKE bekerja sama dengan Kedutaan Besar Norwegia, yang berfokus pada solusi pengembangan energi terbarukan Norwegia yang relevan untuk diimplementasikan di Indonesia. Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 100 pemangku kepentingan EBT yang terdiri dari Pemerintah, asosiasi, mitra donor dan swasta ini diharapkan dapat menjadi peluang investasi energi terbarukan (ET) dengan Norwegia sebagai upaya penciptaan pasar baru EBT di Indonesia. Melalui pertemuan ini, pihaknya berharap dapat mempelajari kesuksesan Norwegia dalam mengembangkan energi terbarukan khususnya tenaga air yang mencukupi 90% kebutuhan listrik nasional negara tersebut.

“Pemerintah Indonesia telah merencanakan target investasi Energi Terbarukan dari angin, matahari, panel surya, hidro, bioenergi, dan panas bumi sekitar USD 17,8 Miliar dari tahun 2020 hingga 2024, dengan total kapasitas terpasang yang direncanakan adalah 9.050,3 MW. Perencanaan ini membutuhkan upaya yang kuat, kebijakan dan peraturan yang didukung, dan juga pendanaan. Kami berharap partner Norwegia dapat mendukung dan berinvestasi untuk mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia”, ujar Harris.

Pada kegiatan ini, sebanyak lima perusahaan Norwegia yaitu Norconsult, Norfund, Sogn Industri AS, Scatec Solar AS dan DNV GL membagikan keterampilan, teknologi, dan pengalaman dalam mengembangan energi terbarukan dengan harapan akan menghasilkan kerja sama atau kolaborasi depan dalam mengembangkan proyek energi terbarukan di Indonesia. Selain itu, dilaksanakan pula penandatangan kerja sama antara perusahaan Indonesia dan Norwegia untuk tindak lanjut pengembangan proyek energi terbarukan di Indonesia, yaitu:

a. Penandatanganan MoU antara Scatec Solar AS dengan PT Arya Watala Capital dan PT Flores Prosperindo, untuk pengembangan PLTS 70 MW di Labuan Bajo yang direncanakan untuk Kawasan Ekonomi Khusus dan dalam rangka sebagai tuan rumah G20 meeting tahun 2023;

b. Penandatangan LoI antara Scatec Solar AS dan PT Sumber Energi Sukses Makmur untuk mengembangkan PLTS 20 MW + 100 MWh battery storage di dekat Danau Toba;

c. Penandatangan MoU antara Scatec Solar AS dan PT Sumber Energi Sukses Makmur untuk pengembangan 15 MW PLTS di dua lokasi. (RWS/DLP)


Contact Center