Kejar Target Bioenergi melalui Pemanfaatan BioCNG

Selasa, 18 Agustus 2020 | 10:15 WIB | Humas EBTKE

BOGOR – Salah satu strategi yang saat ini sedang dikembangkan oleh Pemerintah sebagai upaya dalam pengembangan bioenergi adalah pengembangan bio-CNG dalam skala komersial sebagai bahan bakar untuk transportasi, substitusi LPG untuk industri dan pembangkit listrik.  Dalam pelaksanaan strategi tersebut, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi bekerja sama dengan Global Green Growth Institute (GGGI) dalam kegiatan Studi Pasar atas Penerapan Bio Compressed Natural Gas (BioCNG) di Indonesia dengan lokus kajian di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

“Tujuan dari studi pasar adalah untuk mengetahui potensi supply dan demand pengembangan Bio CNG di dua lokasi tersebut serta mengeksplorasi model bisnis yang layak secara komersial. Metode yang digunakan dalam kajian adalah analisis pada aspek pasokan, teknologi, potensi pemanfaatan, keuangan, dan pemasaran,” papar Direktur Bioenergi, Andriah Feby Misna dalam Forum Group Discussion: Studi Pasar Penerapan BioCNG di Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah (Jumat, 14/8).

Kegiatan FGD kali ini adalah kelanjutan dari hasil FGD sebelumnya yang dilaksanakan di Palangkaraya (Kalimantan Tengah) dan Balikpapan (Kalimantan Timur) pada akhir tahun 2019 dan juga site survey yang dilakukan di beberapa titik supply dan demand dari pemanfaatan BioCNG.

Tujuan utama FGD ini adalah memaparkan hasil studi pasar dan analisa riset BioCNG dan kemungkinan tantangan dan kendala atas penerapannya di provinsi Kalimantan Tengah dan  Kalimantan Timur beserta rekomendasi dan solusinya, mengumpulkan masukan dari pelaku industri terkait mengenai pengembangan penerapan BioCNG bagi pemanfaatan di sektor industri dan masyarakat, sinkronisasi kegiatan terkait pengembangan Bio-CNG oleh para pemangku kepentingan.

“Potensi bioenergi di Kalimantan Timur didapatkan sekitar 1092 MW dan secara teoritis sebesar 542 MW jadi ini artinya sangat besar sekali. Potensi bioenergi di Kalimantan Tengah tidak sebesar di Kaltim hanya sekitar 750 MW ada 73 site. Dengan potensi sumber bahan baku dan pemanfaatannya yang cukup besar, maka pengembangan BioCNG akan dapat berkontribusi kepada ketahanan energi nasional,” tandas Febby.

BioCNG atau biogas terkompresi adalah bentuk biogas yang telah dibersihkan (gas metan murni) dimana gas-gas yang tidak dikehendaki telah dibuang untuk menghasilkan gas metan >95%. Merupakan salah satu EBT karena dihasilkan dari biomassa dengan potensi sumber daya melimpah (misal: limbah pertanian, POME, dan king grass) dengan karakter serupa dengan natural gas komersial (nilai kalor ~12.800 kCal/kg). Jenis bioenergi ini dapat digunakan untuk memasak, bahan bakar kendaraan dan industri.

“Target bionergi kita mencapai 5,5 GW dengan capaian masih sekitar 1,84 GW. Masih ada gap yang cukup tinggi untuk mengejar targetnya. Untuk biofuel kita memiliki target pada tahun 2025 sebesar 13,8 Juta KL dengan capaian baru skitar 7,08 juta KL, khusus untuk biogas capaian saat ini sekitar 26,61 juta/tahun, biogas disini adalah biogas untuk pemanfaatan langsung, murni 26,61 ini untuk kita gunakan pemanfaatan langsung, dan pastinya masih ada gap yang cukup besar,” terang Kepala Subdirektorat Penyiapan Program Bioenergi,Trois Dilisusendi.

Menurut Trois, akan sulit mengejar kekurangan dari target bioenergi apabila masih menggunakan cara konvensional, oleh karenanya memang dibutuhkan terobosan inovasi melalui BioCNG. “Biogas digunakan untuk pemanfataan langsung, baik itu dari skala rumah tangga ataupun biogas komunal, ada juga biogas skala industri dan yang terbaru BioCNG ini, semoga bisa berkontribusi dalam pencapaian biogas di RUEN kita,” tukasnya. (RWS/DLP)


Contact Center