Indonesia Tegaskan Komitmen EBTKE dalam Forum Energi APEC ke-59 2020

Rabu, 26 Agustus 2020 | 15:50 WIB | Humas EBTKE

 

TANGERANG – Direktur Jenderal EBTKE, F.X. Sutijastoto membuka secara resmi ajang The 59th APEC Energy Working Group (EWG) yang digelar hari ini (Rabu, 26/8). Merupakan acara tahunan APEC yang menjadi wadah diskusi isu dibidang energi, yang dilaksanakan secara bergiliran antara ekonomi-ekonomi APEC sebanyak dua kali dalam satu tahun. Pertemuan APEC EWG 59 awalnya direncanakan dilaksanakan di Surabaya, namun karena situasi pandemi Covid-19, format pertemuan dialihkan menjadi virtual dan hanya mengakomodir pertemuan tatap muka untuk delegasi Indonesia.

Dirjen Toto dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan sektor energi baru terbarukan di Indonesia bukan pekerjaan yang mudah, akan tetapi dengan komitmen dan konsistensi, ia yakin target ini bisa tercapai. “Program EBT telah direstrukturisasi dan difokuskan kembali untuk memastikan pencapaian tujuan EBT”, tegasnya di hadapan 21 perwakilan ekonomi APEC yang hadir secara virtual.

Untuk diketahui, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 dan 41% dengan bantuan internasional. Sektor energi ditargetkan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 314-398 Juta Ton CO2 pada tahun 2030 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang RUEN. Hingga tahun 2019 NDC di bidang energi telah mencapai 60,6 Juta Ton CO2e, dicapai dengan upaya Penerapan Efisiensi Energi, Pengembangan Energi Terbarukan, Penerapan Bahan Bakar Karbon Rendah, Penggunaan Teknologi Generasi Bersih.

Untuk mencapai target tersebut, Kementerian ESDM menyempurnakan regulasi yang ada dan menyusun rencana aksi yang dilaksanakan di berbagai sektor, termasuk peningkatan kapasitas dan kegiatan penelitian dan pengembangan. Pemerintah juga tengah mengupayakan metode yang tepat dalam pengembangan bisnis energi agar dapat mendorong kesiapan industri energi nasional dalam menghadapi pasar global industri 4.0. Tidak hanya itu, Kementerian ESDM akan berupaya untuk memperbaiki iklim investasi di sektor energi dengan memberikan insentif, penyederhanaan regulasi, dan memberikan kepastian investasi energi terbarukan.

Lebih lanjut, Toto mengungkapkan bahwa situasi pandemi Covid-19 yang melanda berbagai belahan dunia turut menghambat perekomian kawasan Asia Pasifik. Pengembangan EBT dan penerapan konservasi energi menjadi solusi utama untuk mendukung pengembangan perekonomian secara menyeluruh.

“Penguatan kerjasama antara ekonomi-ekonomi APEC sangat diperlukan untuk memastikan pemulihan ekonomi pasca-Covid dapat terlaksana secara maksimal dengan mengedepankan pengembangan energi baru terbarukan dan penerapan konservasi energi. Pengembangan EBT dapat menjadi jawaban untuk menghidupkan kembali perekonomian pasca COVID-19, karena pengembangan EBT terbukti dapat membantu membangun perekonomian masyarakat di sekitarnya. “ tutur Toto.

Sebagai informasi, pertemuan APEC EWG 59 berlangsung selama tiga hari yaitu tanggal 25-27 Agustus 2020 dengan dipimpin oleh APEC EWG Lead Shepherd Dr. Jyuung-Shiauu Chern  bersama-sama dengan Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM Hariyanto sebagai co-chair. Bertindak sebagai Ketua Delegasi RI adalah Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE dan didampingi oleh Direktur Kerja Sama Intra dan Antar Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Andre Omer Siregar.

Pada APEC EWG, Indonesia aktif pada kegiatan-kegiatan diantaranya:

1. Expert Group on New and Renewable Energy Technologies (EGNRET)

2. Expert Group on Energy Efficiency and Conservation (EGEE&C)

3. Expert Group on Energy Data & Analysis (EGEDA), termasuk kegiatan Joint Organizations Data Initiative (JODI) di bidang minyak (JODI-Oil) dan gas (JODI-Gas)

4. Low Carbon Model Town Task Force (LCMT-TF)

5. Asia Pacific Energy Research Centre (APERC)

6. Oil and Gas Security Initiative – Oil and Gas Security Network (OGSI / OGSN)

*(RWS/DLP)


Contact Center