Akses Listrik Berbasis EBT, Dongrak Perekonomian Desa Lubuk Bangkar

Kamis, 12 November 2020 | 14:15 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang terjadi secara global membawa perubahan yang luar biasa dan sangatberdampaknegatif terhadap kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan. Hampir seluruh kelompok masyarakat tidak luput dari dampak pandemi, dan masyarakat pra-sejahtera adalah kelompok yang paling rentan terkena dampaknya.Kondisi krisis seperti sekarang ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya ketahanan atas kebutuhan dasar, diantaranyapangan, tempat tinggal, air, dan infrastruktur listrik. Ketersediaan listrik menjadi semakin penting disaat pandemi. Sudah menjadi kewajiban Pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan masyarakat yang tidak teralirkan oleh listrik dapat mengakses kebutuhan dasar tersebut. Agar kedepannya, bisa lebih siap menghadapi kondisi-kondisi serupa yang terjadi diluar ekspektasi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM)c.q Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Koservasi Energi (DJEBTKE) bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) melalui proyek Market Transformation through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in Energy Sector (MTRE3), mendukung implementasi aksi-aksi mitigasi perubahan iklim pada sektor pembangkit energi dan penggunaan akhir (end use).Di Provinsi Jambi, melalui proyek MTRE3 bekerja sama dengan BAZNAS dan Bank Jambi, berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 60Kw (kilowatt) di Desa Lubuk Bangkar, Provinsi Jambi. PLTMH adalah teknologi penyediaan listrik yang bersumber dari tenaga air. Selain tidak merusak lingkungan, PLTMH juga memberi beberapa manfaat kepada lingkungan, seperti kontrol terhadap banjir, irigasi dan suplai air.

PLTMH ini telah membuka banyak peluang hidup bagi masyarakat setempat. Sebelum adanya pembangkit ini, masyarakat hanya memiliki penerangan dari generator berbahan bakar diesel atau lampu minyak. Saat itu, listrik merupakan barang mewah. Masyarakat seringkali harus menghentikan aktifitas karena tidak adanya penerangan. Mereka tidak merasa aman untuk berada diluar rumah ketika malam hari, terutama kelompok perempuan.Kini, akses listrik yang dihasilkan dari PLTMH telah membawa terang dalam kehidupan masyarakat.

Terlebih disaat pandemi Covid-19, listrik menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat untuk dapat beraktivitas didalam rumah sepanjang hari. Pelajar dapat tetap menjalankan aktivitas belajar meskipun didalam rumah. Masyarakat dapat membaca, membersihkan rumah dan memasak hingga malam hari. Hal ini terutama membantu kelompok perempuan karena mereka-lah yang seringkali memiliki peran domestik lebih besar.

PLTMH juga menjadi stimulan ekonomi bagi Desa Lubuk Bangkar. Pemerintah desa bersama masyarakat mulai menyadari bahwa desa ini memiliki banyak potensi sehingga saat ini usaha kecil dan jasa pariwisata mulai tumbuh. Sebelum pandemi Covid-19, akses listrik telah meningkatkan kunjungan pariwisata ke Bukit Tempurung. Geliat peningkatan pariwisata juga telah medorong pertumbuhan kegiatan ekonomi skala rumah tangga seperti bisnis kuliner yang juga menggunakan akses listrik untuk mengolah makanan dan minuman. Kini pada masa pandemi Covid-19, kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar Bukit Tempurung tetap berjalan dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat.

Selain pelaku usaha di sektor pariwisata, peningkatan kesejahteraan juga dirasakan oleh para petani kopi. Akses listrik telah membantu para petani kopi meningkatkan produksi kopi. Mereka kini mengolah biji kopi untuk menambahkan nilai jualnya. Sebelumnya, tanpa akses listrik, petani hanya bisa menjual biji kopi mentah kepada tengkulak dengan harga yang murah. Melihat adanya potensi penguatan ekonomi sosial masyarakat, dukungan terhadap PLTMH-pun datang dari berbagai pihak. Pemerintah daerah mendukung adanya perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat dengan adanya PLTMH melalui pengalokasian Alokasi Dana Desa (ADD) untuk membangun jalan desa sepanjang 700 meter. Jalanan itu dibangun menuju PLTMH agar pengelola dapat mengoperasikan dan merawat fasilitas tersebut.

Upaya membangun aspek lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat melalui akses listrik berbasis EBT adalah investasi jangka panjang. Namun manfaatnya dapat dinikmati untuk lintas generasi. Masyarakat kini menikmati peningkatan pendapatan. Sebagai contoh, kini petani kopi dapat menggunakan pendapatan mereka untuk membeli makanan yang sehat dan menjamin pendidikan anak-anak mereka. Efek lintas generasi ini adalah peluang yang dihasilkan dari adanya akses listrik berbasis EBT.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Harris yang ditemui di Jakarta (12/11) mengungkapkan bahwa akses listrik berbasis EBT adalah cara untuk memenuhi salah kebutuhan  yang paling esensial dalam kehidupan masyarakat. Disaat pandemi Covid-19, akses listrik merupakan  kebutuhan dasar yang membantu masyarakat untuk dapat bertahan ditengah krisis yang melanda.

“Akses listrik ini merupakan faktor penting bagi desa-desa terpencil di luar sana, dari Desa Lubuk Bangkar, kita bisa saksikan bahwa kita bisa menjalani hidup dengan energi bersih, memanfaatkan potensi alam di sekitar kita”, ujar Harris.

Untuk diketahui, MTRE3 adalah program lima tahun (2017-2022) yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF). Program MTRE3 bekerja untuk mendukung target pemerintah Indonesia dalam penurunan gas emisi rumah kaca melalui peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dan efisiensi energi (EE). (DLP/AT)


Contact Center