Menteri Jonan Jelaskan Faktor Pertimbangan Dalam Transisi Energi

Kamis, 15 November 2018 | 19:29 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Pengembangan energi terbarukan di Indonesia merupakan program jangka panjang dengan target bauran energi yang telah dipatok sebesar 23% pada tahun 2025. Transisi energi dari energi fosil menjadi energi bersih tentu memiliki tantangan tersendiri, khususnya bagi Indonesia. “Kita, dibelahan bumi manapun, posisinya tidak sama, masalah ketahanan ekonomi, GDP perkapita dan masalah disparitas merupakan faktor yang harus dipertimbangkan jika kita ingin membahas transisi energi, karena di setiap transisi pasti menimbulkan kesempatan usaha baru, menciptakan teknologi baru dan juga menimbulkan biaya-biaya baru”, ungkap Menteri ESDM, Ignasius Jonan dalam sambutannya pada acara Energy Transition Dialogue Forum 2018, Kamis (15/11) di Hotel Pullman Jakarta.

Lebih lanjut Menteri Jonan menjelaskan bahwa jika ingin transisi energi dapat dilihat dari sisi supply dan demand. “Dari sisi demand, kita harus bersyukur bahwa mayoritas generasi muda kita mendukung energi bersih, semua yang didukung oleh young generation  pasti jalan, karena mereka yang meneruskan apa yang kita lakukan hari ini, sedangkan sisi supply, apa yang ditawarkan harus terjangkau” pungkas Jonan.

Rasio elektrifikasi di Indonesia sudah mencapai 98,5% dan itu berarti masih ada sekian persen penduduk Indonesia atau kurang lebih sekitar 5 juta penduduk yang belum menikmati listrik. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri karena disparitas yang ada masih lebar. Menteri Jonan menekankan pentingnya energi berkeadilan, bahwa pada kenyataannya masih banyak penduduk Indonesia yang belum menikmati listrik sejak lahir. Yang menjadi fokus pilihan jika diberikan subsidi, apakah dana nya digunakan untuk subsidi energi baru terbarukan atau untuk pengembangan layanan listrik untuk semua rakyat Indonesia. “Jika ingin transisi energi tolong dipikirkan pertimbangan-pertimbangan sosial, disparitas ekonomi atau kemampuan ekonomi dari negaranya” tegasnya.

Selain menjadi pembicara kunci dalam Forum Dialog Energi Transisi, Menteri Jonan juga sekaligus secara resmi meluncurkan kegiatan Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) 2018 yang diprakarsai oleh Institute for Essential Services Reform (IESR). Pada kesempatan yang sama, turut hadir Prof. Dr. Kuntoro Mangkusubroto, yang merupakan Ketua Dewan Penasehat ICEF 2018, yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk bergabung dalam perubahan tradisi energi menuju sistem energi rendah karbon yang saat ini sedang berlangsung secara mendunia.

Kuntoro menyampaikan pula bahwa biaya teknologi  tenaga angin dan matahari serta penyimpanan energi yang semakin murah telah menjadikan sistem energi terbarukan menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik konvensional, terlebih revolusi digital sudah mulai sedikit banyak yang akan merubah model bisnis energi konvensional.

Executive Director of IESR, Fabby Tumiwa yang merupakan pemrakarsa ICEF 2018 menjelaskan bahwa energi terbarukan menjadi pilihan utama dibanyak negara dan di dalam penyediaan tenaga listrik. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya investasi energi terbarukan dalam 10 tahun terakhir dan bahkan dalam 5 tahun terakhir investasi energi terbarukan secara global jauh melampaui investasi pembangkit fosil.Semakin rendahnya harga teknologi energi terbarukan, maka teknologi tsb akan semangkin terjangkau bagi banyak orang, dampaknya adalah dari harga yang semakin terjangkau akan semakin banyak orang yang mampu membeli dan memproduksi sendiri listriknya ketimbang membeli listrik dari perusahaan penyedia listrik.

“Mengutip pernyataan Pak jokowi baru-baru ini ‘the winter is coming’ rasanya memang kita perlu waspada dan antisipatif terhadap dinamika global yang sedang terjadi dan indikasinya pada sektor energi khususnya kelistrikan di Indonesia.Tidak dipungkiri bahwa Indonesia mengalami situasi yang kompleks dan dilematis dengan transisi menuju energi yang berkelanjutan.Disatu sisi pemerataan energi dilakukan diseluruh negeri tapi disisi lain pemerintah diamanatkan untuk mencapai bauran energi terbarukan yang cukup signifikan sebesar 23% pada tahun 2025” ujar Fabby.

Fabby berharap dengan kehadiran ICEF dapat membantu Pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya untuk dapat melakukan navigasi terhadap dilema energi dalam konteks transisi energi yang saat ini terjadi di Indonesia, dukungan dan bantuan berupa ide, gagasan, pendekatan maupun strategi yang inovatif.

Dalam forum dialog Transisi Energi, Dirjen EBTKE, Rida Mulyana turut hadir sebagai salah satu narasumber pada sesi diskusi mengenai visi dan pengalaman transisi energi menuju sistem energi rendah karbon, bersama Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Rasmus Abildgaard Kristensen, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik dan perwakilan dari Badan Fiskal Kementerian Keuangan. Pada sesi diskusi ini, Dirjen EBTKE menekankan bahwa saat ini fokusnya adalah keadilan energi. “Saya yakin, percepatan transisi energi apabila faktor equitability nya sudah terpenuhi maka percepatan transisi energi diprediksi bisa secara massif” pungkas Rida. (DLP)

 


Contact Center