Strategi Pengembangan Biogas Menuju Target 1 Juta Biodigester

Rabu, 24 Maret 2021 | 12:05 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA – Pemanfaatan dan pengolahan limbah organik menjadi biogas merupakan salah energi alternatif yang dapat mendukung pencapaian bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23% di 2025. Salah satu program yang diinisiasi oleh Kementerian ESDM dan Hivos (organisasi pembangunan non-pemerintah Belanda) yaitu melalui program Biogas Rumah (BIRU), telah berhasil membangun 25.157 unit bidogester dan lebih dari 119 ribu orang telah merasakan manfaatnya. Sejak diluncurkan 2009, program ini diharapkan akan terus berjalan menuju target 1 juta Biodigester.

“Setelah berjalan 10 tahun, diharapkan program biogas ini akan dikembangkan lebih baik, akan direvisi lagi programnya dengan menyusun road map, akan digali peluang termasuk dari APBN, akan diusulkan ada dana alokasi khusus untuk pengembangan program ini”, ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Dadan Kusdiana dalam gelaran Konferensi Pers Learning Event Satu Dekade Program Biru secara virtual kemarin (23/3).

Dadan mengungkapkan dua sampai tiga tahun terakhir memang tidak ada anggaran untuk pembangunan biogas di Kementerian ESDM, pembangunan biogas dilakukan Yayasan Rumah Energi dari hasil pendapatan penjualan karbon. Pada tahun-tahun sebelumnya, pendanaan ada dari sponsor/program, lalu APBN (subsidi) dan dana dari masyarakat. Program ini nantinya mengarah kepada program yang berbasis masyarakat langsung. Pemerintah dalam hal ini memberikan fasilitasi dan bantuan dari sisi konstruksi melalui Program BIRU ini. Namun dari sisi implementasi tidak bisa dikebut seperti dulu karena pendanaan murni berbasis masyarakat dan sedikit tambahan dari Yayasan (YRE).

“Sinergi adalah kata kuncinya dalam pengembangan biogas ini. ESDM tentu tidak bisa 100% melaksanakannya sendiri. Kita sudah punya pengalaman kalau kita membangun sendiri lalu serahkan ke masyarakat tidak sustain, jadi sekarang kita akan menyusun apa strateginya ke depan dengan melibatkan berbagai stakeholder. Tentunya Yayasan Rumah Energi akan terlibat dalam penyusunan programnya”, jelas Dadan.

Sinergi pengembangan biogas nantinya akan perluas ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Desa, Kementerian UKM dan Kementerian lain yang terkait yang memiliki ketertarikan dan program yang bisa disinergikan. Jika dari Kementerian ESDM fokusnya bagaimana bisa menjadikan energi alternatif, jika Kementerian UKM mungkin akan berfokus bagaimana terjadi kegiatan ekonomi di masyarakat. Begitu pula dengan KLHK misalnya bagaimana supaya gas metannya tidak mencemari lingkungan. Inilah yang akan disinergikan untuk menjadi suatu kekuatan bersama sehingga target 1 juta biodigester bisa tercapai, minimal mendekati.

“Saya kira pengembangan biogas di msyarakat dengan pengalaman yang sudah ada sekarang bermanfaat sedemikian besar dari seluruh aspek, oleh karenanya kami mengajak stakeholder dari seluruh sektor untuk bersama-sama melanjutkan program biogas ini”, pungkas Dadan.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Yayasan Rumah Energi, Rebekka Angelyn menyampaikan bahwa dari pengalaman selama satu dekade, pemanfaatan energi yang paling efisien untuk biogas yaitu sebagai energi pengganti gas. Rebeka bercerita, timnya pernah menguji kotoran hewan untuk dijadikan listrik menghidupkan genset berkapasitas 1.000 watt, dibutuhkan biogas 12 meter kubik. Artinya, feedstock atau jumlah sapi yang dibutuhkan untuk menghidupkan genset ini sebanyak 13 ekor, dan bentuknya memang harus komunal.

Sebagai pembelajaran selama kurang lebih 10 tahun ini, Rebekka merekapnya menjadi 3 hal, diantaranya pola perilaku pengguna biogas yang berbeda antar pulau dan desa, kebijakan yang sinergis dari hulu ke hilir serta pelibatan lembaga keuangan untuk pembiayaan biogas.

“Untuk bisa mendorong satu juta biogas rumah membutuhkan kebijakan dari hulu ke hilir, jadi semua parallel, tidak bisa siapa yang duluan mengerjakan apa. Dan Kementerian ESDM sebagai leading sectornya diharakan bisa mendorong kementerian-kementerian lain seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi, Kementerian Lingkungan Hidup untuk bersama – sama mendorong kebijakan dari hulu ke hilir untuk pengembangan biogas dan produk turunannya”, kata Rebekka.

Ia mengungkapkan bahwa strategi pengembangan biogas ini goal nya adalah secara perlahan untuk mundur dari skema subsidi dan masuk ke pasar, artinya koperasi, lembaga keuangan mikro, perbankan, fintech (financial technology) bisa masuk ke pembiayaan biogas. Dari hasil pembangunan dan pemberdayaan di 14 provinisi di Indonesia, Yayasan Rumah Energi mendalami bagaimana masyarakat mau menggunakan biogas dan tetap terus menggunakan biogas selama 15-20 tahun. Diperoleh temuan bahwa nilai keekonomian meningkat dari pengolahan limbah menjadi biogas, juga menghasilkan pendapatan  melalui pemanfaatan pupuk dari ampas biogas, yang dikenal dengan nama (bioslurry). (DLP)


Contact Center