Capai Target Pengurangan Emisi dengan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan

Rabu, 21 April 2021 | 10:15 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA – Untuk mencapai target pengurangan emisi, yang sesuai dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam Paris Agreement, Menteri ESDM, Arifin Tasrif menyampaikan bahwa Indonesia akan mendorong pemanfaatan sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional.

“Pemerintah sedang menyusun rencana jangka panjang pemanfaatan energi baru dan terbarukan, bahwa pada 2025 mendatang pemanfaatan (EBT) akan mencapai 24 ribu megawatt dan pada 2035 akan ditingkatkan menjadi 38 ribu megawatt”, ujar Arifin pada keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta (Selasa, 20/4), selepas mengikuti Sidang Paripurna DEN yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo selaku Ketua Dewan Energi Nasional (DEN).

Menteri ESDM mengungkapkan bahwa dalam Sidang Paripurna DEN tersebut, Presiden Joko Widodo memberi arahan agar DEN dapat melihat momentum dan mengambil kesempatan di tengah pandemi ini untuk dapat maju ke arah ekonomi hijau. Saat ini, semua negara maju sudah menuju arah ekonomi hijau tersebut untuk mengurangi kerusakan lingkungan.

Selain itu, Arifin menjelaskan sejumlah infrastruktur terkait harus dapat diselesaikan, utamanya infrastruktur yang berkaitan dengan listrik karena Pemerintah ingin mencapai target 100 persen elektrifikasi, sehingga seluruh masyarakat mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pasokan listrik. Juga terkait infrastruktur untuk pelaksanaan program hilirisasi dari produk-produk batu bara.

"Demikian pula untuk bahan bakar minyak dengan program BBM Satu Harga, ke depannya kita harapkan bisa dinikmati oleh masyarakat dan bisa membangkitkan ekonomi kerakyatan di daerah-daerah tersebut”, urai Arifin.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro, pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa inovasi dan kesiapan teknologi sangat dibutuhkan untuk bisa memastikan ketersediaan energi sekaligus mengubah komposisi energi nasional menjadi lebih condong kepada energi baru terbarukan. Untuk itu, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional telah mencanangkan beberapa kegiatan terkait energi baru dan terbarukan di dalam prioritas riset nasional 2020-2024.

Terdapat lima kegiatan utama di dalam prioritas riset nasional yang terkait dengan energi baru dan terbarukan. Pertama, bahan bakar nabati yang berasal dari kelapa sawit, idenya adalah Indonesia bisa menghasilkan bahan bakar baik bensin, diesel, avtur, 100 persen berasal dari bahan baku kelapa sawit.

"Saat ini dengan menggunakan katalis yang dikembangkan di ITB, kita sudah melakukan uji coba di kilang Pertamina sehingga harapannya tidak lama lagi kita bisa masuk ke skala produksi. Tujuan akhirnya adalah kita bisa mengurangi impor BBM," jelas Bambang.

Kedua, biogas yang banyak dipakai terutama perkebunan sawit. Biogas ini akan menjadi alternatif yang terbaik untuk penyediaan listrik di tempat-tempat relatif terpencil. Menurut Menristek, saat ini teknologinya sudah dikembangkan di beberapa tempat dan harapannya bisa dipakai secara luas. Ketiga, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil. Seperti diketahui, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kandungan panas bumi terbesar di dunia. Namun, pemanfaatan panas bumi tersebut masih belum maksimal. Menurut Menristek, salah satu kendalanya adalah nilai investasi yang sangat mahal pada pembangkit dengan skala yang besar.

Keempat, baterai listrik. Indonesia tengah mengembangkan baterai litium dan teknologi fast charging untuk keperluan kendaraan listrik, juga teknologi battery swapping. Menristek berharap teknologi tersebut sudah siap dipakai dan dikembangkan ketika kendaraan listrik sudah mulai dipromosikan.

Kelima, pemerintah tetap menjaga pengembangan teknologi nuklir. Menristek memandang, bagaimanapun Indonesia harus memastikan listrik yang memadai ketika Indonesia ekonominya semakin tumbuh ke depannya.

"Untuk memastikan listrik memadai tentunya kita pada satu sisi kita harus comply pada Paris Agreement. Bagaimanapun kesiapan teknologi nuklir harus terus dijaga, terutama dari unsur keselamatannya baik lokasi maupun teknologi yang menjamin keselamatan dari teknologi nuklir tersebut," jelasnya.

Dalam kerangka Paris Agreement dan green economy yang diinginkan oleh Presiden, Kemenristek/BRIN juga mengembangkan penelitian berbasis ekonomi sirkuler. Menristek mengatakan, ekonomi selama ini bersifat linier di mana limbahnya tidak terurus dan menjadi beban. Dengan ekonomi sirkuler, limbah yang muncul dari kegiatan ekonomi akan diolah kembali. Menurut Menristek, limbah tersebut bisa diolah menjadi bahan lain maupun energi melalui pembangkit listrik berbasis sampah. Teknologi pengolahan sampah ini harus terus dikembangkan dengan memperhatikan berbagai jenis sampah yang muncul di berbagai tempat di Indonesia.

"Kita harapkan kota-kota besar di Indonesia bisa segera menerapkan bahwa untuk pengolahan sampah selain cara-cara tradisional mereka harus mulai mengembangkan pembangkit listrik berbasis sampah tersebut. Sehingga dengan satu aktivitas seperti ini kita bisa mencapai dua tujuan, yaitu tujuan untuk kebersihan lingkungan dan penyediaan energi yang bersifat terbarukan," tandasnya. (BPSP/DLP)


Contact Center