PLTU di 35 Lokasi di Indonesia Siap Implementasikan Cofiring Biomassa

Selasa, 27 April 2021 | 09:45 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA – Salah satu strategi percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menuju target 23% di 2025, dilakukan melalui subtitusi energi. Di masa pandemi Covid-19, di mana demand penggunaan energi turun dan ketersediaan dana untuk investasi juga terbatas, maka upaya substitusi energi untuk jangka pendek dan menengah menjadi pilihan yang tepat untuk mendorong EBT tanpa membebani PLN dan juga Pemerintah dengan subsidi. Realisasi strategi ini diwujudkan melalui program cofiring biomassa pada PLTU batubara eksisting, yang juga menjadi salah satu program Green Booster PT PLN (Persero). Program Cofiring biomassa menggunakan biomassa baik yang berbasis sampah, limbah maupun biomassa yang berasal dari tanaman energi. Cofiring biomasa pada PLTU batubara bukanlah hal baru. Banyak negara-negara lain yang telah berhasil meng”hijau”kan PLTUnya dengan program cofiring biomasa, bahkan hingga 100% PLTU digantikan dengan biomasa.

“Ke depan kita akan berupaya untuk bisa mengurangai PLTU-PLTU eksisting untuk digantikan dengan pembangkit-pembangkit yang lebih bersih. Kami mendukung upaya yang telah dilakukan PLN dan grup untuk terus mencari peluang-peluang pemanfaatan biomassa”, ujar Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna pada acara Go Live Cofiring Biomassa pada PLTU Labuan, PLTU Lontar dan PLTU Suralaya 5-7, secara virtual kemarin (Senin, 26/4).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT. PLN, M. Ikshan Asaad mengatakan program cofiring ini siap diimplementasikan di 114 unit atau 52 Lokasi PLTU dengan total kapasitas 18.154 MW. Implementasi komersial cofiring telah dilakukan bertahap sejak 2020, tentunya dilakukan setelah dilaksanakan proses uji coba yang menunjukan hasil yang baik. Hingga saat ini PLN group telah melaksanakan Go Live atau komersialisasi cofiring biomassa pada 8 unit PLTU, jadi selain PLTU Paiton juga di PLTU Ciranjang, Ketapang, Sangau, Pacitan, Anggrek, Suralaya dan Rembang.

“Dalam situasi yang tidak kondusif menghadapi Covid19, kita patut berbangga karena Indonesia Power (IP) dapat kembali melaksanakan Golive Cofiring 3 lokasi sekaligus. IP sebelumnya telah berhasil komersialisasi cofiring di PLTU Suralaya 1-4, Ciranjang dan Sangau, dengan penambahan 3 PLTU lagi membuktikan IP telah menjadi salah satu yang terdepan dalam mendukung program green transformasi PLN”, pungkas Ikshan.

Tantangan terbesar dalam implementasi cofiring biomassa ini adalah upaya untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku biomassa, yang tentunya dengan tetap mempertimbangankan aspek keekonomian untuk tetap menjaga dalam operasinya tidak melebihi Biaya Pokok Pembangkitan (BPP). PT. PLN sendiri telah melakukan kerja sama dan komitmen dengan pemasok biomassa besar seperti Perhutani, PTPN, dan Shang Hyang Seri, serta mendorong berkembangnya pasar biomassa skala menengah dan kecil. Diharapkan upaya-upaya ini terus dilanjutkan di setiap titik lokasi PLTU di Indonesia sehingga nantinya akan tercipta pasar demand-supply yang semakin besar dan keekonomian serta economics of scale yang semakin baik.

Direktur Bioenergi, Feby menyampaikan Kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE akan terus mengawal dan terus memfasilitasi upaya-upaya penyediaan bahan baku biomassa di sisi hulu serta menjaga pada implementasinya tidak terkendala pada sisi teknis. Pada sisi teknis, saat ini telah ditetapkan SNI Pelet Biomassa untuk pembangkit listrik, dan menyusul akan ditetapkan juga SNI Bahan Bakar Jumputan Padat. Pada tahun 2021, juga akan dimulai pembahasan RSNI sawdust, woodchip, dan cangkang sawit untuk pembangkit listrik.

Selain itu, dari sisi regulasi, sedang disusun Rancangan Permen ESDM tentang Implementasi Cofiring Biomassa pada PLTU. Dalam aturan tersebut nantinya akan didefinisikan klasifikasi bahan bakar biomassa, bagaimana acuan dalam formulasi harga, pengaturan standar, pembinaan pengawasan, serta pentahapan pelaksanaan cofiring.

Go Live Cofiring yang dilakukan di tiga tempat sekaligus ini, yaitu Suralaya 5-7, Lontar dan Labuan merupakan pencapaian yang luar biasa karena cofiring telah dijadikan program nasional. Seperti diungkapkan Direktur Utama PT Indonesia Power (IP), Muhammad Ahsin Sidqi, telah banyak dukungan dari berbagai Kepala Daerah untuk menyiapkan sustainability feedstock.

“Untuk PLTU Lontar tentu biomassa atau bahan bakarnya ada di Tangerang dan sekitarnya, kita sudah mendapatkan dukungan dari Walikota, juga di Labuan kami sudah kerjasama dengan Kepala Daerah menyiapkan sustainability cofiring, begitu pula di Suralaya yang merupakan pembangkit terbesar yang kita miliki, yang sampai sekarang menjadi pendapatan terbesar untuk IP juga untuk PLN”, kata Ahsin Sidqi.

Pada tahun 2020 telah dilaksanakan uji coba di 29 lokasi PLTU dan untuk tahun 2021 direncanakan uji coba pada 17 lokasi PLTU, sehingga total PLTU yang telah masuk tahap uji coba sejak 2020 hingga April 2021 sebanyak 35 lokasi dari total 52 lokasi. PLTU ini telah melakukan uji coba cofiring dengan berbagai sumber biomassa seperti woodpellet, sawdust, SRF, cangkang sawit, eceng gondok, batok kelapa, dan sekam sawit.

Dengan asumsi persentase cofiring biomassa sebesar 5% dan seluruh PLTU telah melakukan cofiring, maka volume batubara yang dapat dikurangi mencapai 4 juta ton per tahun dan dihasilkan peningkatan kontribusi EBT sebesar 0,9 % pada bauran energi nasional. Jika cofiring biomassa dilakukan hingga 10%, maka bauran EBT yang dapat dihasilkan mencapai 1,79%. Keuntungan lain yang diharapkan dengan program co-firing pada PLTU Batubara adalah penghematan BPP dan reduksi emisi lingkungan. Hasil evaluasi BPP untuk cofiring sawdust PLTU Paiton 1-2, pada Juni 2020 turun sebesar Rp 21,26/kWh dengan kWh Green sebesar 727.425 kWh. Sedangkan potensi saving pada PLTU Ketapang sebesar Rp 5,09/kWh, PLTU Belitung sebesar Rp 8.56/kWh dan PLTU Kaltim Teluk sebesar Rp 10,7/kWh. (DLP/DEB)


Contact Center