Kementerian ESDM Dorong Akses Pembiayaan Pengembangan Proyek Bioenergi

Kamis, 5 Agustus 2021 | 19:05 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Guna pencapaian target kontribusi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi primer sebesar 23% di tahun 2025, Pemerintah mendorong pengembangan beragam inovasi termasuk optimalisasi pemanfaatan bioenergi. Sebagai salah satu sumber utama EBT, bioenergi memiliki peluang besar untuk menggantikan porsi energi fosil. Bioenergi dapat dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan baik di sektor kelistrikan, transportasi, industri, maupun kebutuhan energi di tingkat rumah tangga. 

Melihat potensi bioenergi yang melimpah di Indonesia, Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah memasukkan pengembangan bioenergi sebagai salah satu strategi kunci pengembangan EBT. Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), kontribusi bioenergi pada tahun 2025 terdiri dari PLT bioenergi sebesar 5,5 MW, biofuel sebesar 13,9 juta kL, biomassa sebesar 8,4 juta ton dan biogas sebesar 498,8 juta m3. Namun, realisasi pengembangan bioenergi cenderung masih jauh dari target ini, dimana PLT bioenergi baru mencapai 1,9 MW (34,5%), biofuel sebesar 8,4 juta kl (60,4%), dan biogas baru mencapai 28,07 juta m3 (5,6%). Aspek pembiayaan menjadi salah satu kendala utama dalam upaya realisasi target-target bioenergi. 

Kementerian ESDM bekerja sama dengan Deutsche Gesselschaft für Internationalle Zusammenarbeit (GIZ) GmbH sebagai perpanjangan tangan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir Pemerintah Jerman (BMU), berupaya mendorong dan mempromosikan akses pembiayaan untuk pengembangan inovasi pemanfataan bioenergi. Dalam kerangka kerja Proyek Strategic Exploration of Economic Mitigation Potential through Renewables (ExploRE), Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, menyelenggarakan webinar Bioshare Series #3 dengan tema Pendanaan Proyek Bioenergi di Indonesia. Bioshare Series #3 dikemas dalam bentuk webinar dengan menghadirkan narasumber dari pelaksana pengembangan proyek bioenergi serta lembaga pembiayaan yang telah berpengalaman mendanai proyek bioenergi. 

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, mengungkapkan bahwa kondisi ketahanan energi Indonesia cukup rentan. Karenanya, Pemerintah mendorong upaya diversikasi energi, terutama energi bersih dan ramah lingkungan. Namun, pengembangan bioenergi membutuhkan kepastian dari beragam aspek, termasuk inovasi teknologi dan ketersediaan pembiayaan. 

“Kita menyadari tantangan pembiayaan EBT di Indonesia masih cukup banyak, seperti tarifnya yang sampai dengan saat ini dianggap belum mencerminkan keekonomian, sehingga investasi EBT dianggap kurang menarik dan mempunyai risiko tinggi. Hal ini yang kita harapkan bisa dijembatani dengan adanya Perpres (terkait) EBT, mudah-mudahan bisa keluar dalam waktu dekat ini,” ungkap Feby saat membuka kegiatan webinar Bioshare Series #3 hari ini, Jumat (5/8).

Hadir sebagai narasumber pada kegiatan ini, salah satu pengembang proyek bioenergi Growth Steel Group (GSG) yang diwakili oleh Duncan Kuncara, menyatakan bahwa pihaknya mendapatkan dukungan pembiayaan dari perbankan untuk pengembangan sejumlah pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBM). Pengembangan PLTBM ini dilakukan sejak tahun 2009, dengan mengandalkan limbah industri kelapa sawit dan limbah pertanian lainnya sebagai bahan baku utama. GSG mendapatkan dukungan pembiayaan dari BCA sebesar 70% dari total biaya pengembangan. Serupa dengan angka tersebut, PT Bangka Biogas Synergy juga mendapatkan dukungan pendanaan sebesar 70% dari Bank Sumselbabel untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg). 

Vice President Corporate Banking PT BCA Tbk, Yayi Mustika mengatakan bahwa pihaknya memiliki portofolio EBT sebesar 4,81 triliyun rupiah. Dari jumlah tersebut, 68% diletakkan pada sektor bioenergi dan sisanya dialokasikan pada renewable energy power plant. Lembaga keuangan lain, seperti PT Sarana Multi Infrastrktur (SMI), juga memiliki fokus dukungan pendanaan di bidang pembangunan berkelanjutan, termasuk pengembangan EBT. Pihaknya juga menyediakan layanan konsultansi bagi pengembang proyek-proyek bioenergi untuk meningkatkan bankabilitas. Layanan serupa juga dapat diakses oleh pengembang proyek bioenergi melalui konsultan hukum, salah satunya UMBRA. 

Mewakili Proyek GIZ-ExploRE, Dody Setiawan mengungkapkan bahwa Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi bioenergi yang besar dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Peluang dan dukungan pendanaan yang saat ini masih menjadi tantangan utama. Diharapkan ke depan semakin tersedia dan terbuka lebar bagi pengembangan inovasi bioenergi. Portofolio lembaga keuangan di Indonesia pun diharapkan dapat memberi kesempatan lebih luas bagi pembiayaan proyek-proyek bioenergi. (DLP/GIZ)


Contact Center