Peran Generasi Muda dalam Pengembangan Bioenergi

Rabu, 10 November 2021 | 18:05 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA – Sebagai salah satu penghasil emisi karbon terbesar saat ini, sektor energi tanah air terus bergerak adaptif melakukan beragam upaya transisi energi menuju energi bersih sesuai target yang telah ditetapkan Pemerintah. Perlu dimulai sejak dini untuk memaksimalkan penerapan energi terbarukan, tak hanya untuk menggantikan sumber energi fosil, juga sebagai langkah strategis dalam upaya penurunan emisi karbon. Pemanfaatan bioenergi menjadi salah satu program andalan utama Pemerintah untuk mengejar target EBT 23% di 2025 dan merealisasikan transisi energi di berbagai sektor, termasuk industri, transportasi hingga rumah tangga.

“Salah satu aktor penting pengembangan bioenergi yaitu generasi muda, yang dapat berperan sebagai agen perubahan yang aktif, adaptif, kompetitif, kreatif, dan juga menguasai digitalisasi teknologi,” ungkap Andriah Feby Misna, Direktur Bioenergi, saat membuka kegiatan Bioshare Series #5 secara virtual, Selasa (9/11).

Bertujuan untuk mempromosikan bioenergi di kalangan generasi muda serta memfasilitasi diskusi terkait pengembangan bioenergi antara Pemerintah, universitas, dan lembaga riset, diselenggarakan kegiatan webinar Bioshare Series #5, dengan tema Generasi Muda untuk Pengembangan Bioenergi dan Energi Bersih. Kegiatan ini merupakan kali kelima pelaksanaan webinar topik bioenergi, hasil kerja sama Direktorat Jenderal EBTKE dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir (BMU) Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesselschaft für Internationalle Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dalam kerangka proyek kerja sama Strategic Exploration of Economic Mitigation Potential through Renewables (ExploRE).

Kontribusi generasi muda dalam pengembangan energi bersih, khususnya bioenergi, dapat dilakukan melalui berbagai lini. Di sektor akademis, peluang pengembangan riset dan inovasi perlu dieksplorasi lebih mendalam untuk memaksimalkan potensi bioenergi di dalam negeri. Program-program pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh universitas juga dapat ikut menciptakan inovasi-inovasi dalam penggunaan bioenergi sehari-hari di tingkat komunitas. Selain itu, kedekatan generasi muda dengan beragam platform komunikasi digital juga menjadi aset penting dalam penyebarluasan informasi dan pengetahuan terkait energi baru terbarukan (EBT).

Potensi bioenergi yang melimpah membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk berkontribusi langsung dalam upaya pengembangan bioenergi dan energi bersih.

“Menurut riset IRENA (International Renewable Energy Agency) di tahun 2050 akan ada lebih dari 6,5 juta peluang kerja di bidang energi terbarukan di ASEAN, 70% diantaranya ada di bioenergi,” tutur Dody Setiawan, Principal Advisor Proyek ExploRE, GIZ.

Selain mendominasi jumlah populasi, generasi Y dan Z juga merupakan angkatan yang paling aktif bersuara mengenai perubahan iklim serta beragam dampaknya. Karenanya, aktivisme generasi muda ini diharapkan dapat terus ditingkatkan dan berdampak nyata. Salah satunya melalui kontribusi dalam pengembangan bioenergi dan energi bersih, sebagai upaya mitigasi terhadap dampak-dampak perubahan iklim yang kian nyata terjadi di berbagai belahan dunia. (DLP/GIZ)


Contact Center