Pengembangan Hidrogen Hijau Guna Pencapaian Target Penurunan Emisi

Jumat, 12 November 2021 | 10:20 WIB | Humas EBTKE

 

JAKARTA – Salah satu sumber energi terbarukan yang dapat menjadi solusi pencapaian target Net Zero Emission pada 2060 yaitu hidrogen. Walau belum diarahkan untuk berkembang ke skala komersial, pengembangan hidrogen di Indonesia terus dilakukan melalui beragam riset dan proyek-proyek percontohan. Upaya untuk memperkenalkan hidrogen hijau kepada aktor dan pemangku kepentingan di sektor energi serta kepada masyarakat umum juga terus dilaksanakan melalui berbagai kegiatan dan forum komunikasi.

Sebagai lanjutan diskusi sesi pertama pekan lalu, Green Hydrogen Talk Sesi II digelar dengan menghadirkan narasumber ahli untuk berbagi ilmu, pengalaman serta pembelajaran seputar pengembangan hidrogen hijau. Kegiatan dalam format webinar ini merupakan hasil kerja sama Kementerian ESDM c.q Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir (BMU) Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesselschaft für Internationalle Zusammenarbeit (GIZ) GmbH, dalam kerangka kerja proyek Strategic Exploration of Economic Mitigation Potential through Renewables (ExploRE).

“Pengembangan hidrogen hijau memberi kita alternatif segar untuk mencapai (target) pengurangan gas rumah kaca, Pemerintah pun kini sedang mematangkan regulasi dan peraturan terkait pengembangan hidrogen hijau yang mengacu pada standar-standar di tingkat internasional”, demikian ungkap Dr. Ir. Yahya Rachmana Hidayat M.Sc, Direktur Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan, Bappenas, dalam sambutan pembukaannya pada webinar ini (Kamis, 11/11).

Hidrogen hijau semakin banyak diperbincangkan oleh negara-negara di dunia, dan diantaranya bahkan telah berkomitmen dalam strategi dan regulasi terkait pengembangan hidrogen hijau. Kebutuhan dan permintaan akan hidrogen hijau juga diproyeksikan meningkat di masa mendatang, seiring dengan banyaknya industri yang melakukan transisi. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Jan Michalski, yang hadir mewakili World Energy Council (WEC).

Pengembangan hidrogen hijau ternyata tidak hanya akan berdampak pada akselerasi dekarbonisasi, melainkan juga pada sektor ekonomi, yaitu melalui penambahan lapangan pekerjaan. Proyeksi ini diperoleh melalui serangkaian riset dan investigasi yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Chili, seperti disampaikan oleh Rainer Schoeer, narasumber yang hadir mewakili GIZ Chili. Hingga saat ini, Chili telah berhasil mengembangkan setidaknya 60 proyek, termasuk produksi maupun aplikasi hidrogen hijau. Rainer juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Chili bahkan telah berhasil mengimplementasikan proyek hidrogen hijau tanpa subsidi.

Dody Setiawan, Principal Advisor Proyek ExploRE GIZ, mengingatkan bahwa hidrogen bisa jadi opsi yang tidak ekonomis dan bahkan tidak ramah lingkungan, jika pengembangannya tidak dilakukan dengan tepat.

“Kita harus mendukung pengembangan hidrogen hijau di Indonesia karena dengan cara demikian kita bisa memastikan bahwa hidrogen dikembangkan dengan menggunakan sumber daya terbarukan dan emisi karbonnya rendah atau bahkan 0,” terang Dody.

Dody juga menambahkan bahwa pengembangan hidrogen hijau di dalam negeri mensyaratkan kemitraan internasional, baik dengan penyedia teknologi, industri, maupun Pemerintah negara-negara lain dengan pengalaman dan teknologi hidrogen hijau yang lebih maju, serta kebutuhan akan hidrogen hijau dimasa depan.

Kemitraan multipihak ini juga yang menjadi pendekatan utama Proyek ExploRE dalam mendukung upaya-upaya Pemerintah untuk mencapai target bauran energi serta target pengurangan emisi. ExploRE mendorong pengembangan hidrogen hijau di Indonesia melalui berbagai aktivitas. Salah satunya adalah kajian bersama PT Pertamina (Persero) untuk mengeksplorasi peluang pengembangan hidrogen hijau dari panas bumi untuk kebutuhan pasar di dalam dan luar negeri. Selain itu, ExploRE juga bekerjasama dengan HDF Energy untuk melakukan pre-feasibility study proyek percontohan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hybrid dengan hidrogen hijau di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Pemerintah saat ini juga berada dalam tahap awal studi pengembangan dan akselerasi investasi hidrogen hijau yang rencananya akan dilaksanakan di Kalimantan Utara dan Sumatera Utara. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendorong realisasi pemanfaatan hidrogen hijau dan berkontribusi signifikan dalam upaya mencapai target pengurangan emisi. (DLP/GIZ)


Contact Center