Perusahaan Multinasional Tunjukan Komitmen terhadap Energi Terbarukan

Selasa, 30 November 2021 | 16:55 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Di negara-negara maju, pertumbuhan sektor ketenagalistrikan sudah stagnan. Namun, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, masih mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi. Sebagai negara kepulauan dengan jumlah lebih dari 17.000 pulau, Indonesia mempunyai tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan listrik, terutama dalam menjamin ketersediaan energi dengan tetap mempertimbangkan harga listrik yang terjangkau bagi masyarakat. Maka dari itu, perencanaan ketenagalistrikan dengan mempertimbangkan sumber daya lokal sebagai sumber pembangkit utama menjadi hal yang krusial bagi Indonesia. Apalagi mengingat sumber pembangkit utama berupa batubara tidak tersedia di semua pulau di Indonesia. Desentralisasi energi membuat daerah menjadi mandiri dalam menghasilkan dan mengonsumsi sumber daya sesuai dengan kebutuhan. Satu hal yang pasti adalah Indonesia memiliki kelimpahan sumber-sumber energi terbarukan (surya, angin, biomassa, air dan lain-lain) melimpah yang dapat menunjang desentralisasi energi kelistrikan. Pemerintah sudah berkomitmen setidaknya 6,78 milyar dolar atau hampir Rp. 96,5 triliun untuk mendukung berkembangnya berbagai tipe energi dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Pada saat yang bersamaan, krisis iklim, mitigasi perubahan iklim dan semakin langkanya sumber daya alam membuat pola perdagangan menjadi berubah. Akibatnya, banyak pihak mau tidak mau harus beralih ke ekonomi global yang rendah karbon. Tidak sedikit perusahaan multi nasional di Indonesia bekerja keras untuk mencapai target pasokan listrik karbon rendah dengan berkomitmen untuk mengambil sumber yang 100% energi terbarukan. Bahkan beberapa di antaranya berhasrat mengambil langkah lebih jauh lagi dengan membangun sendiri jaringan listrik dengan menggunakan energi terbarukan.

Pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman bekerja sama mengembangkan energi terbarukan guna mengejar komitmen Perjanjian Paris serta memenuhi bauran energi nasional sebesar 23% pada tahun 2025. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral diwakili oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) serta Kedutaan Besar Republik Federal Jerman yang mewakili Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) menghadiri Indonesian German Renewable Energy Day 2021 – RE Day 2021 di Jakarta, pada tanggal 30 November 2021. Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal EBTKE DR. Ir. Dadan Kusdiana MSc mengatakan Indonesia harus memaksimalkan potensi lokal untuk memastikan pengembangan EBT sejalan dengan kondisi ekonomi Indonesia dan tantangan kedepan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tantangan dalam menyediakan listrik di seluruh wilayah Indonesia. Desentralisasi pembangkit listrik EBT menjadi sangat penting untuk menciptakan kemandirian energi dan berkontribusi positif terhadap capaian EBT.

”Terkait hal ini, Kementerian ESDM telah mengembangkan beberapa program, yaitu implementasi PLTS Atap, pengembangan Green Industry, implementasi program De-dieselisasi, dan pemanfaatan PLTS untuk fasilitas cold storage di usaha perikanan“, ujar Dadan saat memberikan sambutan pada kegiatan RE Day 2021 hari ini (30/11).

Sementara, Dubes Jerman untuk Indonesia, Ina Lepel mengungkapkan “Jerman secara aktif mendukung Pemerintah Indonesia dalam transisi energi. Kami secara aktif mendukung rencana Pemerintah Indonesia dalam pengembangan dan peningkatan penggunaan energi bersih dan terbarukan baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Sektor tersebut merupakan area inti kerja sama pembangunan bilateral Jerman-Indonesia”. Kerjasama Indonesia dan Jerman untuk bidang energi terbarukan diselenggarakan oleh perwakilan Lembaga Pelaksana Kerjasama Internasional Jerman, GIZ dan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (DJ EBTKE). Perwakilan GIZ Indonesia, Martin Hansen menyatakan dukungan terhadap visi Indonesia dalam proses dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan, “Dukungan diberikan melalui penyediaan bukti, dialog lintas masyarakat dan peningkatan kesadaran guna memfasilitasi proses transisi energi yang adil dan mendorong bahwa kebijakan energi dan pilihan teknologi dibuat dalam keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan masyarakat”.

Sri Haryati, Asisten Perekonomian dan Keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta untuk membuka acara RE Day ini mengapresiasi penyelenggaraan acara RE Day 2021 sebagai sebuah platform untuk mempertemukan para kolaborator dari sektor publik dan swasta agar dapat menginisiasi, menjalin komitmen dan kerja sama terkait pembangunan pengembangan EBT menuju pembangunan rendah karbon. Selain itu, Sri Hayati menyampaikan perpektif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenai upaya pengurangan emisi karbon dan efisiensi energi dan energi baru dan terbarukan di Jakarta. “Pemerintah DKI Jakarta telah berkomitmen untuk mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 30% di tahun 2030. Bahkan, kami berambisi untuk mengurangi emisi GRK hingga 50% pada tahun 2030”, ujar Sri Haryati.

Beberapa inisiatif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mencapai Masyarakat Rendah Karbon tahun 2050, yaitu instalasi panel surya akan dipasang di atap gedung milik pemerintah (sekolah, layanan kesehatan, rumah sakit, dan olahraga) serta gedung-gedung swasta. Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk mencapai 50% armada Bus Transjakarta bebas bahan bakar fosil pada tahun 2025 dan beralih ke penggunaan bus listrik.

RE Day 2021, yang diselenggarakan secara hibrid ini, mengusung tema “Power to the Islands! Making Indonesia the Global Leader in Decentralised Power Generation and Green Energy Innovation” atau “Jayalah Pulau-pulau! Menjadikan Indonesia sebagai Pemimpin Global dalam Pembangkitan Listik Terdesentralisasi dan Inovasi Energi Hijau.” Kegiatan ini bertujuan menggali wawasan bagaimana meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global melalui penyediaan energi rendah karbon dan inovasi energi hijau.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah dan lembaga terkait, PT PLN, perusahaan swasta, perusahaan penyedia energi terbarukan, lembaga penelitian, lembaga pendanaan proyek, asosiasi sektor energi terbarukan dan pengguna energi terbarukan.
PT. Pan Brothers, PT Shell Indonesia, dan PT Suryacipta Swadaya membacakan komitmennya dalam mendukung penggunaan energi terbarukan serta inisiatif pembangunan rendah karbon lainnya. PT Pan Brothers berkomitmen untuk menggunakan pasokan listrik dari energi terbarukan setidaknya 31% dari seluruh kebutuhan listriknya, serta menambah kapasitas tenaga surya di pabrik-pabriknya dari 2,5 MWp menjadi total 5 MWp di tahun 2022. PT Suryacipta Swadaya menyatakan komitmennya untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya atap (PLTSA) pada gedung dan fasilitas, serta meningkatkan kapasitas terpasang dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun ke depan di Subang Smartpolitan. PT Shell Indonesia mendeklarasikan komitmennya untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada stasiun bahan bakar dan pabrik pencampuran minyak pelumas dengan total kapasitas terpasang sebesar 1,535 MWp. Komitmen PT Shell tersebut sejalan dengan strategi Powering Progress untuk mempercepat transisi bisnis menuju bisnis emisi nol karbon pada tahun 2050.

Pada kesempatan yang sama juga dilangsungkan pengumuman kerja sama Indonesia dan Jerman dalam bidang teknologi pendingin rendah karbon (SOCOOL) yang diwakili oleh Drs. Dedy Miharja, M.Si selaku Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) dan Lisa Tinschert selaku direktur program energi Indonesia/ASEAN – GIZ.

Acara RE Day 2021 dilanjutkan dengan gelar wicara membahas “Bagaimana Meningkatkan Daya Saing Global Indonesia melalui Pasokan Energi Rendah Karbon dan Inovasi Energi Hijau” yang dihadiri oleh perwakilan dari Dirjen KPAII-Kemenperin, Bapak Eko S.A Cahyanto; Direktur Perencanaan Korporasi PT PLN (Persero), Bapak Evy Haryadi; Clean Energy Investment Accelerator (CEIA), Ibu Gina Lisdiani; Kepala Divisi Lingkungan dan Tanggung Jawab Sosial PT Astra International, Tbk., Ibu Diah Suran Febrianti; dan Pendiri Energy Academy Indonesia (ECADIN), Ibu Desti Alkano. Diskusi tersebut dapat dilihat kembali pada saluran Youtube GIZ Indonesia, ASEAN & Timor Leste.

Di hari ke-2, 1 Desember 2021, RE Day menyelenggarakan tiga (3) pelatihan secara terpisah bertema Mari Pasang PLTS Atap di Perusahaan Anda dan Hal-hal yang Perlu Dipertimbangkan; Terdepan dengan Peraturan Baru! Verifikasi Jejak Karbon Anda sebelum Memasuki Pasar Indonesia; dan Percepatan Inovasi dengan Perusahaan Rintisan bidang Energi Bersih.Tiga diskusi terpisah ini dilakukan secara daring serta diselenggarakan atas kerja sama dengan berbagai organisasi, yaitu Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Physikalisch-Technische Bundesanstalt (PTB), TU?V Nord, dan New Energy Nexus. (GIZ/DLP).


Contact Center