Rencana Pengembangan Pembangkit Listrik Menuju Target Net Zero Emission

Kamis, 3 Februari 2022 | 16:25 WIB | Humas EBTKE

 

JAKARTA – Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Dadan Kusdiana mengungkapkan optimalisasi pemanfaatan sumber daya energi baru dan energi terbarukan untuk pembangkit listrik menjadi bagian rencana strategis pengembangan pembangkit listrik net zero emission (NZE).

“Berbicara roadmap secara umum, target EBT sebesar 23% di tahun 2025, tentunya perlu upaya percepatan untuk mencapai angka tersebut. Ada tambahan semangat untuk mencapai net zero emission di 2060 sebagaimana target Presiden. Kami ada beberapa program misalkan yang di luar RUPTL, PLTS Atap kita targetkan tambahannya 3,6 GW di tahun 2025,” jelas Dadan dalam FGD bertajuk Potensi Nilai Ekonomi Karbon Dalam Rangka Pengembangan Proyek Energi Baru dan Terbarukan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang diselenggarakan secara virtual oleh Kemenko Bidang Perekonomian, Kamis (3/2).

Dadan menuturkan masyarakat diharapkan dapat turut berkontribusi secara langsung melalui pemasangan PLTS di atap rumah masing-masing yang pemanfaatannya untuk dipakai sendiri, bukan untuk dijual ke PLN. “Jadi nantinya tidak boleh ada proses jual beli, demikian juga nanti di sisi pemasangannya. Kapasitas maksimum harus sesuai dengan kapasitas terpasangnya. Sekarang Permennya sudah ada dan perencanaan kami ini dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Secara rinci, Dadan menjelaskan rencana pengembangan pembangkit listrik NZE yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi baru dan energi terbarukan untuk pembangkit listrik, diantaranya tambahan pembangkit setelah 2030 hanya dari EBT. Mulai tahun 2035 didominasi oleh Variable Renewable Energy (VRE) berupa PLTS, pada tahun berikutnya diikuti oleh PLTB dan PLTAL. Lalu, Pengembangan PLTP dimaksimalkan hingga 18 GW melalui pengembangan Advance Geothermal System dan pengembangan sistem panas bumi non-konvensional lainnya, optimalisasi pengembangan PLTA dan listriknya dikirim ke pusat-pusat beban di pulau lain, selain itu PLTA juga memberikan balancing bagi pembangkit VRE. Selain itu, PLTN akan masuk sekitar tahun 2049 untuk menjaga keandalan sistem, di mana pada tahun 2060 ditargetkan mencapai 35 GW. Juga model storage yang dikembangkan mulai tahun 2025 adalah pump storage, Battery Energy Storage System (BESS) mulai masif pada tahun 2031 bersamaan dengan pengenalan pemanfaatan hidrogen. Pemanfaatan hidrogen ditargetkan mulai masif pada tahun 2051.

“Kalau dilihat tipikal pembangkitnya, ini kan perencanaan, pasti nanti akan sangat dinamis tergantung dari proses-proses perkembangan teknologi dan keekonomian. Kita maksimalkan penggunaan geothermal, hydro, solar termasuk energi laut, dan juga nuklir,” tandas Dadan.

Saat ini Pemerintah juga menyiapkan penurunan emisi gas rumah kaca yang berbasis dari PLTU. Pembangunan PLTU yang menggunakan batubara sudah dibatasi dengan tidak akan menambah PLTU yang baru kecuali yang memang sekarang sudah masuk dalam proses pengadaan pembangunan yang ada di PLN.Kementerian Keuangan bersama dengan beberapa pihak juga sedang melakukan kajian terkait percepatan rencana pengistirahatan PLTU untuk memastikan bahwa dari sisi penyediaan listriknya harus tetap terjamin, terjadi penurunan emisi, dan terdapat opsi teknologi baru.

“Jadi masih banyak opsi yang lain yang di sini kami tidak masukkan karena secara teknologi kita belum terlalu yakin untuk hal tersebut sehingga pada saatnya nanti kita akan mempunyai pembangkit-pembangkit yang relatif lebih bersih daripada yang ada sekarang termasuk yang ada di PLTU ini,” pungkas Dadan. (RWS)


Contact Center