PLTU Air Anyir Siap Implementasikan Cofiring Biomassa

Senin, 6 Juni 2022 | 10:10 WIB | Humas EBTKE

PANGKALPINANG – Penggunaan biomassa sebagai substitusi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan salah satu strategi percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan menuju target 23% pada tahun 2025. Program ini sejalan dengan upaya Indonesia menuju net zero emission di tahun 2060.

“Program cofiring ini akan meningkatkan bauran EBT sekitar 1,8% melalui subtitusi sebagian batubara dengan biomassa sampai dengan kurang lebih 10 persen. Pada 2025, kebutuhan biomassa untuk cofiring diperkirakan sekitar 10,2 juta ton/tahun dan implementasi cofiring ini akan memberikan dampak terhadap penurunan emisi karbon sekitar 11 juta ton CO2” urai Direktur Bioenergi, Edi Wibowo, pada sebuah kesempatan di Jakarta, Jum’at (3/6).

Selain turut meningkatkan kontribusi energi terbarukan pada bauran energi nasional, menurut Edi, cofiring juga berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan (circullar economy).

“Program cofiring merupakan bagian dari ekosistem listrik kerakyatan dan land preservation program yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan biomassa, sehingga sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi setempat karena membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah,” jelas Edi.

Pada tahun 2022, target pemanfaatan biomassa yaitu sebanyak 450 ribu ton, yang akan menghasilkan produksi green energy sebesar 334 GWh dengan pengurangan emisi CO2 sebesar 340 ribu Ton CO2. Realisasi cofiring sampai dengan April 2022 telah sebanyak 175 ribu ton biomassa, menghasilkan produksi green energy sebesar 185 GWh dengan pengurangan emisi CO2 sebesar 184 ribu ton CO2.

Lebih lanjut Edi mengungkapkan hingga saat ini, PT PLN telah berhasil melakukan implementasi cofiring atau pencampuran biomassa dengan batu bara di 31 lokasi dari target 35 lokasi di tahun 2022.  Dalam waktu dekat, PLTU Air Anyir Bangka 2x30 MW sebagai unit pembangkitan utama di Pulau Bangka akan turut aktif dalam menerapkan program cofiring Biomassa.

Sebagai informasi, PLN sudah berkontrak untuk penyediaan woodchip pada PLTU Air Anyir sebesar 15.000 ton untuk periode 1 tahun dan direncanakan pengiriman perdana ke unit pada bulan Juli 2022. PLTU Air Anyir Bangka telah melakukan uji bakar pada 19 April 2021 menggunakan woodchip 5% dengan hasil aman dan memenuhi parameter desain. Pengujian dilakukan pada beban 25 MW gross dengan menggunakan 36 ton biomassa. Secara umum kondisi semua parameter boiler dan operasi normal.

Adapun penyedia woodchip untuk PLTU Air Anyir adalah KSO PT Biro Teknik Sinar Baru, Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo), dan PT Solusi Energindo Inovasi. Penyedia juga bekerjasama dengan kehutanan sosial seperti Hutan Rakyat, Hutan Desa, dan juga Hutan Produksi melalui Kelompok Tani Hutan dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Direncanakan woodchip plant akan dibangun di area dekat PLTU Air Anyir Bangka dan pengiriman ke PLTU dimulai pada Juli 2022 dengan metode trucking.

Sebagai langkah strategis menjaga kontinuitas pasokan Biomassa, PLN telah mengupayakan penyediaan bahan baku dari berbagai sumber antara lain melalui pemanfaatan lahan tanaman energi, pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan, pemanfaatan lahan kering, serta pemanfaatan sampah.

“Untuk mempercepat implementasi cofiring biomassa pada PLTU, Kementerian ESDM telah melakukan penyusunan Peraturan Menteri ESDM Pemanfaatan Biomassa sebagai Campuran Bahan Bakar pada PLTU yang saat ini telah memasuki tahap harmonisasi di Kemenkumham,” pungkas Edi. (RWS)


Contact Center