Pemerintah Perkuat Kontribusi Pemuda di Sektor Energi Tangani Krisis Iklim

Jumat, 22 Juli 2022 | 19:50 WIB | Humas EBTKE

 

JAKARTA -- Kesadaran pentingnya pemahaman mengenai isu perubahan iklim terus ditingkatkan oleh seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah sendiri tengah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong peran anak muda terlibat langsung dalam penanganan krisis iklim dan percepatan transisi energi bersih.

Seruan ini ditekankan dalam webinar bertajuk Youth Actions in Mitigating Climate Change di Jakarta pada Jumat (21/7). Diskusi ini digagas oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan USAID - Sustainable Energy for Indonesia's Advancing Resilience (USAID-SINAR) sebagai bagian dari menyukseskan Presidensi G20 Indonesia tahun 2022.

Tenaga Ahli Menteri ESDM sekaligus Chair of Energy Transitions Working Group (ETWG) Yudo Dwinanda Priaadi mengungkapkan, penanganan perubahan iklim membutuhkan keterlibatan anak muda, termasuk masa depan pengelolaan sektor energi.

"Dampak perubahan iklim sudah kita rasakan bersama. Penanganannya tidak bisa ditunda, Selain membangun kesadaran di masyarakat, sudah saatnya anak muda memberikan aksi nyata untuk mencari solusi bersama," kata Yudo membuka diskusi tersebut.

Yudo menjelaskan, isu perubahan iklim maupun transisi energi yang menjadi isu global mulai banyak diminati oleh generasi milenial dan generasi Z. Ia mengamati fenomena akan maraknya komunitas penggerak maupun usaha rintisan (startup) di bidang EBT. "Hal tersebut merupakan sinyal yang baik dalam meningkatkan peran anak muda dalam mewujudkan transisi energi Indonesia," tuturnya.

Saat ini, sambung Yudo, pemerintah berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 29 - 41% pada tahun 2030. Pada sektor energi, Indonesia memasang target penurunan emisi GRK sebesar 314-446 Juta Ton CO2 pada tahun 2030, melalui pengembangan energi terbarukan, pelaksanaan efisiensi energi, dan konservasi energi, serta penerapan teknologi energi bersih. "Ini sesuai amanat UU No 16 Tahun 2016 tentang pengesahan Paris Agreement," tegasnya.

Demi mencapai target penurunan emisi, Kementerian ESDM telah menyusun peta jalan menuju Net Zero Emission (NZE) sektor energi pada tahun 2060 atau lebih cepat dengan bantuan internasional. "Penyusunan roadmap ini sejalan dengan arah kebijakan energi nasional yaitu melaksanakan transisi energi, dari energi fosil menuju energi bersih ramah lingkungan utamanya pengembangan Energi Baru Terbarukan atau EBT," ungkapnya.

Peta jalan atau roadmap tersebut mencakup strategi yang perlu ditempuh oleh Indonesia dari sisi supply dan demand energi untuk menurunkan emisi GRK secara signifikan dan mencapai NZE, seperti seperti phasing down batubara, implementasi EBTKE secara masif, konversi PLTD ke Pembangkit EBT, serta peningkatan demand listrik melalui pemanfaatan kompor induksi dan kendaraan listrik.

"Kami juga masih melakukan exercise dan simulasi agar dokumen peta jalan NZE sektor energi dapat sejalan dengan upaya penurunan emisi yang ditargetkan oleh KLHK selaku National Focal Point, serta dapat disinergikan dengan peta jalan sektor lainnya," Yudo menambahkan.

Menurut Yudo, tanggung jawab mewujudkan transisi energi semakin besar seiring terpilihnya Indonesia sebagai Presidensi G20 di Tahun 2022. Terlebih transisi Energi menjadi salah satu isu dari tiga pilar utama dalam mewujudkan target utama dalam forum internasional tersebut, yaitu Recover Together, Recover Stronger - Pulih Bersama, Pulih Lebih Kuat.

"Transisi Energi menjadi salah satu isu dari tiga pilar utama dalam mewujudkan target utama dalam forum internasional tersebut, yaitu Recover Together, Recover Stronger," jelasnya.

Urban Environment Officer USAID Indonesia, Ryan Weddle menyatakan: "Amerika Serikat, melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), berkomitmen untuk mendukung tujuan energi terbarukan Indonesia dan Nationally Determined Contribution mengejar tujuan ini. Sangat penting untuk memberdayakan generasi muda agar masyarakat dapat secara efektif memanfaatkan energi, semangat, dan kreativitas mereka."

Ryan menambahkan: "Kami gembira bisa bersama-sama menjadi tuan rumah webinar penting ini, di mana para peserta dapat belajar tentang inovasi di sektor energi seperti perdagangan karbon, utilitas energi berkelanjutan, dan pengelolaan limbah elektronik. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin muda ini karena telah berbagi kisah inspiratif mereka dan juga kepada semua peserta atas keterlibatan berkelanjutan mereka dalam pengembangan energi terbarukan.".

Hal ini senada yang diungkapkan oleh Yudo diakhir sambutan, ia mengungkapkan Energi baru terbarukan dan mitigasi perubahan iklim bukan merupakan upaya yang dilakukan sesaat, diperlukan komitmen dan keberlanjutan dalam pelaksanaannya. Ia menantikan kontribusi semua generasi milenial dalam membangun energi bersih. "Pemerintah tak bisa sendiri, dibutuhkan gerak bersama termasuk peran generasi muda dalam mewujudkan transisi energi dan menciptakan sistem energi yang berkelanjutan," tutupnya. (RWS)


Contact Center