Optimalisasi Potensi EBT Kejar Target Emisi

Rabu, 14 September 2022 | 17:10 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA – Sejalan dengan komitmen Indonesia untuk melakukan penurunan emisi gas rumah kaca dengan mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat, arah kebijakan energi nasional ke depan memprioritaskan transisi menuju energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan melalui optimalisasi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Indonesia memiliki potensi EBT yang besar, tersebar, dan beragam untuk mendukung ketahanan energi nasional dan pencapaian target bauran EBT.  Upaya mitigasi untuk menurunkan emisi karbon harus dilakukan dengan tetap menjaga ketahanan energi,” ungkap Dadan Kusdiana, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi pada acara Plenary Session 1 bertema The Legacy of Geothermal Energy in Supporting the Climate Change for A Greener World, dalam rangka the 8th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2022 hari ini (Rabu, 14/9).

Transisi energi menuju pemulihan dan produktivitas berkelanjutan harus memperkuat sistem energi bersih global dan transisi yang adil melalui sekuritas aksesibilitas energi, peningkatan teknologi energi cerdas dan bersih, serta memajukan memajukan pembiayaan energi.

Dadan mengatakan, Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat melimpah yaitu sekitar 3.000 GW, dimana potensi panasbumi sebesar 24 GW. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, penambahan kapasitas pembangkit EBT sampai dengan Juli 2022 adalah sebesar 2.576 MW dengan kenaikan rata-rata sebesar 5 persen per tahunnya.

“Telah dimanfaatkan 0,3% dari total potensi sehingga peluang pengembangan EBT sangat terbuka, terlebih didukung isu lingkungan, perubahan iklim dan peningkatan konsumsi listrik per kapita. Potensi EBT akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mempercepat transisi energi,” urai Dadan.

Adapun strategi pengembangan EBT untuk mendukung transisi energi antara lain pembangunan PLT EBT On Grid, implementasi PLTS Atap, konversi PLTD ke PLT EBT (PLT Gas sebagai transisi), mandatori B30, co-firing biomassa pada PLTU, penyediaan akses energi modern dengan EBT (skala kecil seperti PLTMH, PLTS), eksplorasi panas bumi oleh Pemerintah, dan implementasi EBT off grid dan pemanfaatan langsung.

Untuk pengembangan panas bumi, percepatan penambahan kapasitas PLTP dilakukan dengan sinergi Pemerintah, BUMN dan pemanfaatan pendanaan internasional. Rencana pengembangan PLTP dilaksanakan melalui program government drilling, pemanfaatan dana Pembiayaan Infrastruktur Sektor Panas Bumi dan Geothermal Resource Risk Mitigation, sinergi BUMN dalam pengembangan panas bumi dan optimalisasi sumber daya pada WKP yang telah berproduksi dengan pengembangan ekspansi.

Sebagai informasi, “The 8th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2022” yang dilaksanakan pada tanggal 14 - 16 September 2022 merupakan agenda tahunan Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) sekaligus forum Pertemuan Ilmiah Tahunan “PIT” INAGA. Kegiatan ini meliputi program Convention, Exhibition, Technical Paper Presentation (TPC), dan  Field Trip. Tujuan diselenggarakannya IIGCE 2022 yaitu mempertemukan lembaga pemerintah, pembuat kebijakan, pemangku kepentingan, investor, perusahaan jasa, akademisi, dan pakar industri panas bumi untuk meningkatkan serta mempercepat  pengembangan industri panas bumi. (RWS)


Contact Center