Peluang Investasi Efisiensi Energi Masih Cukup Besar

Kamis, 1 Maret 2018 | 11:10 WIB | Dian Lorinsa

DEPOK – Kementerian ESDM c.q Direktorat Konservasi Energi telah meluncurkan kegiatan Investment Grade Energy Audit (IGA) atau identifikasi secara detail peluang penghematan energi dan menghasilkan langkah-langkah penghematan energi sebagai dasar teknis dan ekonomis dalam melaksanakan upaya penghematan energi. Sebanyak 22 objek yang terdiri dari 15 Industri dan 7 bangunan gedung yang sudah dilakukan IGA dan tercatat peluang investasi mencapai Rp 393,74 Miliar dengan potensi penghematan energi sebesar 206,38 GWh.

“Berdasarkan hasil evaluasi yang sudah kami lakukan, baru Rp. 14 miliar (4%) yang sudah diimplementasi dan setara  47 GWh (25%), artinya peluang investasi masih cukup besar untuk bisnis dengan pola ESCO” ungkap Direktur Konservasi Energi, Sugeng Mujiyanto, pada acara Forum Bisnis Peluang Investasi Efisiensi Energi, Selasa (27/2) lalu.

Pada forum ini, disampaikan pula hasil survei yang menunjukkan bahwa potensi penghematan energi sektor industri dan bangunan gedung mencapai sekitar 10 s.d. 30%. Walaupun terdapat potensi yang cukup besar, dan ketersediaan berbagai teknologi hemat energi di pasar, namun tindakan investasi masih sedikit dilakukan oleh industri dan bangunan gedung. Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan lambatnya implementasi diantaranya keterbatasan dana, yang menjadi salah satu kendala terpenting bagi perusahaan yang ingin menerapkan upaya efisiensi energi.  Pemerintah juga perlu melibatkan Perusahaan ESCO (Energy Services Company) , vendor peralatan hemat energi, dan industri penunjangnya sehingga pasar yang berkaitan dengan bisnis konservasi energi dilaksanakan secara  business  to  business.

Sampai saat ini, 95% dari kebutuhan energi nasional masih dipenuhi energi fosil, sementara kontribusi energi terbarukan baru mencapai 5%. Di sisi lain, Indonesia masih tergolong boros dalam menggunakan energi yang ditunjukan dari nilai intensitas energi yang masih tinggi. Kondisi ini rentan terhadap gangguan ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, ketergantungan terhadap energi fosil harus dikurangi dan memaksimalkan energi terbarukan, dan yang paling penting adalah mengefisienkan penggunaan energi di semua sektor pengguna.

“Melalui efisiensi energi, berarti mengurangi konsumsi energi, juga mengurangi suplai energi, sehingga tidak harus membangun pembangkit baru untuk memenuhi kebutuhan energi, membangun pembangkit baru untuk memenuhi kebutuhan energi jauh lebih mahal dan lama dibanding melakukan efisiensi energi untuk menyediakan energi kepada sesama” ujar Sugeng. (DLP)