Bioenergy Goes To Campus Sambangi Universitas Jambi

Selasa, 16 Oktober 2018 | 23:17 WIB | Humas EBTKE

JAMBI - Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) terus mendorong peran aktif mahasiswa dan institusi pendidikan untuk ikut serta dalam mempercepat pengembangan bioenergi di Indonesia. Oleh karena nya, kegiatan roadshow untuk meningkatkan partisipasi ini secara kontinu terus dilaksanakan. Kali ini Ditjen EBTKE menyambangi Universitas Jambi, khususnya Fakultas Pertanian untuk berbagi ilmu dan sharing pengalaman bersama kalangan civitas akademika pada Selasa (16/10).

Dipilihnya Jambi sebagai tempat kunjungan kali ini bukan tanpa alasan. Potensi biomassa untuk dijadikan energi listrik di Provinsi Jambi sebesar ± 1.800 MW, paling besar berasal dari industri karet dan kelapa sawit, yaitu masing-masing sebesar 723,06 MW dan 624,67 MW.

Saat ini rasio elektrifikasi Provinsi Jambi sebesar 95,87%, masih dibawah rata-rata rasio elektrifikasi nasional yaitu 97,13%. Provinsi Jambi memiliki lebih dari 600.000 hektar lahan Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) yang dimiliki oleh lebih dari 40 PKS. Potensi listrik yang dapat dihasilkan dari limbar cair atau POME dari 40 PKS ini dapat menghasilkan 132 MW. Jumlah ini dapat memenuhi 50% dari total kebutuhan listrik provinsi Jambi. Namun hingga saat ini baru ada 6 perusahaan yang memanfaatkan POME menjadi listrik untuk kepentingan sendiri dengan kapasitas 10,3 MW.

Di Provinsi Jambi saat ini, baru terdapat 2 unit PLTBm milik swasta (IPP) dengan kapasitas masing-masing 10 MW yang menjual listriknya ke PT PLN (Persero) sejak 2014. Sedangkan dalam RUPTL 2018-2027 direncanakan akan dibangun 1 PLTBm (IPP/ swasta) dengan kapasitas 3 MW dan 1 PLTBg (APBN) dengan kapasitas 1 MW. Diharapkan dengan pembangunan PLT tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi Provinsi Jambi.

Pada tahun 2018, Pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus telah membangun Biogas Rumah Tangga di Kabupaten Tebo sebanyak 26 unit. Biogas yang memanfaatkan kotoran hewan ini digunakan sebagai pengganti LPG untuk memasak dan untuk penerangan.

Beragam kendala dan tantangan dihadapi dalam pengembangan Bioenergi, baik dari sisi ketersedian bahan baku, harga keekonomian, masalah sosial dan infrastruktur yang belum mendukung. Pemerintah terus bekerja keras untuk mengatasi kendala tersebut. Namun, salah satu kendala terbesar adalah kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) andal yang memiliki keahlian dan keterampilan, yang dapat mendukung percepatan pemanfaatan bioenergi, serta keberadaan teknologi mumpuni yang memungkinkan harga bioenergi menjadi terjangkau.

"Kami berharap rekan-rekan mahasiswa dapat berperan dalam penciptaan SDM yang andal, riset-riset yang dapat menciptakan teknologi baru untuk mendukung dan pemanfaatan teknologi Bioenergi dengan biaya yang terjangkau dan tepat guna," ungkap Direktur Bioenergi, Andriah Feby Misna di hadapan para mahasiswa dan civitas akademisi Universitas Jambi.

"Hal penting lainnya adalah membangun public awareness akan pentingnya pemanfaatan energi hijau yang ramah lingkungan. Kami mengharapkan pada rekan-rekan mahasiswa untuk ikut serta berperan dalam upaya meningkatkan pemanfaatan dan kesadaran akan pentingnya energi bersih demi masa depan Indonesia yang lebih baik," pungkas Feby. (RWS)