Dirjen EBTKE Tinjau Proyek Pengolahan Sampah dan Gulma di Saguling

Jumat, 13 November 2020 | 15:40 WIB | Humas EBTKE

BANDUNG BARAT – Seiring dengan perkembangan teknologi dan kondisi global yang dinamis, diperlukan terobosan baru dari berbagai pihak untuk mendukung program Pemerintah dalam pemanfaatan energi terbarukan guna percepatan peran Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional.

Hari ini, Jumat (12/11), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana meninjau secara langsung kegiatan operasi PT. Indonesia Power Saguling Pomu di Saguling, Bandung Barat, yang berhasil melaksanakan program Biomass Operating System of Saguling (BOSS). BOSS merupakan program pemanfaatan sampah dan gulma air yang ada di permukaan Waduk Saguling berupa eceng gondok yang tumbuh dan yang terbawa dari aliran sungai Citarum menjadi bahan bakar Pembangkit Listrik (Briket).

"Kenapa kami berkunjung kesini, karena sekarang ESDM sedang menyusun grand strategi pengolahan energi tapi ini belum resmi namanya, kemudian kami sedang meredesign untuk perencanaan energi. Kita lihat RUPTL, RUEN, kita lihat dinamis teknologi, masyarakat dan global. Kami melihat salah satu dari terobosannya itu yang dilakukan oleh Pak Rudiansyah disini,” tutur Dadan kepada General Manajer PT Indonesia Power Saguling Pomu, Rusdiansyah.

Menurut Dadan, meskipun proyek BOSS ini masih tergolong skala kecil dan belum dihitung keekonomiannya tetapi Pemerintah tetap mengapresiasi dan meyakini proyek ini akan memacu munculnya proyek terobosan yang lain bahkan dengan skala yang lebih besar. “Kalau melihat angka dan bangunannya memang tidak besar mungkin yg dihasilkan disini kurang dari 500 ton per hari. Kami dari EBTKE memberikan fokus besar yg contoh-contoh seperti ini nanti mendorong aplikasi baik secara kecil maupun nanti dorongannya ke skala besar,” ujarnya. Selain itu, proyek tersebut juga turut membantu PLN dalam mengelola kebersihan waduk, memberikan nilai tambah dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar waduk.

Pada kesempatan yang sama, Rusdiansyah menjelaskan bahwa operasi proyek pembuatan biomassa ini dimulai 1,5 tahun yang lalu. Berawal dari upaya pembersihan waduk dari gulma, perusahaan juga berupaya untuk mengalih-profesikan petani kerambak jaring apung di waduk.

“Kami mulai membuat briket dari sampah yg ada di waduk sebanyak 50% dan sampah gulma 50%. Di sini banyak petani keramba jaring apung dan setelah kita teliti kalau keramba jaring apung di waduk ini sudah berlebih dan ini menyebabkan pendangkalan. Karena sisa dari pakan ikan yang tidak habis menjadikan lumpur dan bisa menjadi pupuk bagi gulma. Akhirnya kami membuat program agar petani keramba jaring apung ini beralih menjadi petani briket,” urainya.

Rusdiansyah meyakini briket yang dihasilkan akan memiliki pasar seiring dengan kewajiban penggunaan briket pada PLTU. Hal ini yang dilihat sebagai peluang untuk membuka lapangan perkerjaan bagi masyarakat sekitar. Pihaknya juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada kelompok petani jaring apung ini agar bisa membuat briket sendiri. Kedepan program BOSS ditargetkan dapat menjadi proyek pembangkit biomass berkapasitas 2 MW dan produksi massal briket biomass ditargetkan untuk pembangkit lain sebagai co-firing. (RWS/DLP)


Contact Center