Maritje: Kami Serius Implementasikan MoU Pemanfaatan Solar Fotovoltaik Pada Atap Bangunan Baru Perumahan

Kamis, 2 November 2017 | 16:04 WIB | Rakhma Wardani

DITJEN EBTKE -- Pemerintah menunjukkan keseriusan atas komitmen meningkatkan pemanfaatan EBT, khususnya pemanfaatan solar fotovoltaik pada atap bangunan baru perumahan. Hari ini, Kamis (2/11), Ditjen EBTKE melalui Direktorat Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan  (EBT) menyelenggarakan Workshop Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap pada Kawasan Perumahan di Serpong.


 "Acara ini bertujuan untuk menindaklanjuti penandatanganan kesepahaman bersama antara Dirjen EBTKE dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia pada tanggal 13 September 2017 lalu," ujar Direktur Aneka EBT, Maritje Hutapea dalam sambutan pembukaannya.

Maritje mengungkapkan bahwa pembangunan sektor energi baru dan terbarukan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan energi nasional.  Sebagaimana kita ketahui, energi telah menjadi kebutuhan mendasar. Pertumbuhan energi cukup tinggi yaitu rata-rata 7% per tahun dan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,1% per tahun dan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi ke depan sekitar 6-7% per tahun. Hal ini mengakibatkan kebutuhan energi nasional akan besar. Kebutuhan energi yang besar ini tidak mungkin hanya mengandalkan energi fosil mengingat cadangan energi fosil kita sudah sangat menurun. Peranan energi baru dan terbarukan termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya harus ditingkatkan.

PLTS merupakan pembangkit energi baru dan terbarukan yang kini sudah menjadi primadona di berbagai negara. Setiap tahun negara-negara maju meningkatkan kapasitas plts untuk memenuhi kebutuhan listrik di negaranya. Hingga tahun 2015, kapasitas kumulatif PLTS di seluruh dunia sebesar 227 GW. China menjadi peringkat pertama negara terbesar yang memiliki kapasitas PLTS mencapai 45 GW, disusul oleh Jerman, jepang dan USA. Di sisi lain, potensi matahari indonesia tidak kalah dari negara-negara tersebut. Bahkan, Indonesia memiliki potensi tenaga surya 10 kali lipat daripada Jerman. Akan tetapi, penerapan PLTS di Indonesia masih sangat kecil yaitu sebesar 86 Mwp (0,02% terhadap potensi).

Dalam rangka mencapai target 6,4 GW PLTS, berbagai kebijakan dan program dibuat antara lain kebijakan tentang tarif, insentif dan pajak, yang tak lain untuk mendukung perkembangan PLTS di Indonesia karena melihat besarnya potensi yang ada. Workshop ini bertujuan untuk menindaklanjuti MOU pemanfaatan solar fotovoltaik pada atap bangunan baru perumahan dengan maksud mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan solar fotovoltaik pada atap bangunan baru perumahan dan bertujuan untuk mengimplementasikan solar fotovoltaik pada atap bangunan baru perumahan dalam rangka mendukung pencapaian target energi terbarukan sebagaimana yang ditetapkan dalam kebijakan energi nasional. Selain itu, telah dideklarasikan gerakan nasional sejuta surya atap oleh sekitar 14 instansi pemerintah dan non pemerintah yang terkait dengan energi surya.

Real Estate Indonesia (REI) adalah salah satu stakeholder dari pengembangan energi surya yang dapat berkontribusi secara signifikan pada pemanfaatan energi surya melalui penerapan PLTS rooftop pada rumah-rumah yang dibangun oleh anggota REI sebagaimana yang telah mulai dilakukan oleh Summarecon.

"Kami berharap melalui workshop ini para developer akan membangun rumah-rumah yang sudah dilengkapi dengan PLTS. Rumah seperti ini tidak hanya membantu meningkatkan ketahanan energi nasional tetapi sekaligus membantu menciptakan perumahan yang bersih lingkungan, " tutup Maritje.

Turut hadir sebagai narasumber dalam workshop ini Wakil Ketua Umum Tata Ruang dan Properti Ramah Lingkungan Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia, Manager Senior Energi Alternatif Divisi EBT PT PLN (Persero), Ketua Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA), Bendahara Umum APAMSI, Team Leader Pembiayaan Berkelanjutan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Vice President Bidang KPR PT Bank Mandiri (Persero), TBK, dan peserta para Developer Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. (RWS)