Peluncuran Teknologi Mesin Pembuat Es Balok Berpendingin Hidrokarbon dengan Teknologi 4.0 Pertama Yang Digerakkan oleh Solar PV

Tuesday, 2 October 2018 | 17:26 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) bekerja sama dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH melalui proyek Green Chillers terus mengimplementasikan solusi energi murah untuk penyediaan suplai pendinginan yang efisien dan berkelanjutan untuk industri penangkapan ikan di Indonesia yang berbasiskan energi terbarukan dan sistem fotovoltaik (photovoltaic/PV), dengan menargetkan pembangunan sosial di daerah pesisir terpencil yang belum terjangkau oleh listrik.

Keterbatasan pasokan listrik di daerah pesisir terpencil dan tingginya biaya dari penggunaan generator diesel telah membuat energi terbarukan menjadi kompetitif terhadap energi konvensional. "Pemanfaatan PV sebagai sumber energi yang terjamin untuk pembuatan es merupakan sistem yang baru dan inovatif yang bermanfaat untuk meningkatkan nilai tambah tangkapan ikan," ungkap Hariyanto, Direktur Konservasi Energi, saat menyampaikan sambutan Direktur Jenderal EBTKE pada Peluncuran Mesin Pembuat Es Balok Berpendingin Hidrokarbon dengan Teknologi 4.0 Pertama yang digerakkan oleh Solar PV di JIEXPO Kemayoran, Jakarta pada Kamis lalu (27/9).

Pengembangan sektor maritim di Indonesia, sebagai produsen ikan terbesar kedua di dunia, menuju peningkatan produksi dan pengembangan bagi sektor perikanan skala kecil, menyebabkan peningkatan permintaan pasokan pendingin untuk pengawetan. Hal ini, terdapat setidaknya 800 titik lokasi di seluruh Indonesia yang menghadapi keterbatasan pasokan es sebagai peluang untuk pembangunan sistem pendingin dengan PV hingga 20 MWp.

Sebagai negara kepulauan terbesar dan produsen ikan terbesar kedua di dunia, sektor perikanan Indonesia memainkan peranan penting dalam proses pembangunan. Pemerintah Indonesia berencana untuk menggandakan produksi ikan domestik dalam periode 2015-2019 dan memenuhi permintaan internasional yang terus meningkat untuk produk-produk bernilai tinggi dan ramah lingkungan. Ini berarti terdapat kebutuhan langsung untuk memperluas sistem pendingin dan mengembangkan hasil perikanan bagi pulau-pulau yang tidak mendapat akses listrik.

Hariyanto mengungkapkan bahwa saat ini, nelayan di daerah-daerah ini menghadapi kesulitan dalam memperoleh es untuk mendinginkan tangkapan mereka dan terpaksa menjual dengan harga murah. Oleh karena itu, teknologi tinggi yang akan diluncurkan ini dapat membantu menghasilkan ikan berkualitas tinggi, dan dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan nelayan sehingga meningkatkan kehidupan mereka.

"Teknologi ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap program energi berkeadilan, dimana masyarakat Indonesia yang belum mendapat pasokan listrik PLN tetap dapat menggunakan teknologi pendingin untuk meningkatkan kualitas hidupnya, khususnya untuk menjaga hasil tangkap perikanan di daerah kepulauan terpencil," tutur Hariyanto. "Selain itu, kegiatan ini dapat menunjang arah kebijakan dan rencana umum pengembangan energi nasional Indonesia ke depan dalam pengembangan sektor energi baru terbarukan," pungkasnya. (RWS)