Update Terkini Kegiatan Operasional Pembangkit Listrik Panas Bumi Sorik Marapi

Jumat, 26 Februari 2021 | 11:05 WIB | Humas EBTKE

MANDAILING NATAL – Setelah melalui berbagai tahap persiapan dan analisis dampak serta risiko, kegiatan operasional panas bumi di lapangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Sorik Marapi telah dimulai sebagian. Pengoperasian kembali kegiatan operasional perusahaan ini telah juga disetujui Bupati Mandailing Natal dalam pembahasan rapat Bersama Forkopimda Plus, Camat Puncak Sorik Marapi, serta Kepala Desa di area WKP. Adapun unit yang diizinkan untuk beroperasi sementara ini adalah PLTP WKP Sorik Marapi Unit 1 (45 MW) dengan kegiatan operasional 2 unit rig pengeboran panas bumi.

“Kami berkomitmen untuk bertanggung jawab penuh memastikan kegiatan operasional tersebut telah memenuhi seluruh ketentuan dan prosedur keselamatan panas bumi” tegas Riza Glorius Pasikki, Chief Technology Officer PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), yang dalam hal ini bertindak sebagai Direktur Utama.

Direktur Panas Bumi, Harris, mengatakan bahwa rekomendasi-rekomendasi teknis yang sudah disampaikan Kementerian ESDM harus ditindak lanjuti. Tak hanya rekomendasi teknis, tapi juga rekomendasi non teknis harus menjadi perhatian besar karena tidak cukup hanya teknis saja yang diperhatikan sementara untuk yang non teknis jika tidak dibenahi tentunya akan berakibat fatal.

“Saya rasa persiapan sudah dilaksanakan secara matang dan kami berharap agar kejadian yang kemarin itu sudah dievaluasi secara menyeluruh dan jangan menyisakan satu hal yang diabaikan dan semua itu harus diikuti, termasuk dari hasil rekomendasi investigasi yang ESDM lakukan khususnya. Ada 12 rekomendasi,  8 rekomendasi sudah dilaksanakan dan tinggal 4 yang harus segera dilakukan, selanjutnya harus kita evaluasi perkembangannya untuk aksi berikutnya”, ujar Harris pada kunjungan lapangan ke Sorik Warapi, menghadiri kegiatan sosialisasi dan menyaksikan pengoperasian sumur unit I.

Harapan dari Pemerintah kejadian di Sorik Marapi menjadi pembelajaran besar dan dijadikan sebagai momentum untuk menyempurnakan banyak sistem, seperti sistem manajemen, sistem operasional, sistem keamanan yang harus dilaksanakan secara ketat. Tak hanya itu, sektor panas bumi itu operasionalnya di lingkungan masyarakat dan proyek jangka Panjang, tentu harus ada sinergi antara perusahaan dan masyarakat sehingga terjalin hubungan saling membutuhkan dan memberikan manfaat.

“Saya harap teman-teman SMGP tak hanya fokus pada urusan teknis, juga bangunlah komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar sehingga hasil yang kita harapkan yaitu zero accident dan maximum benefit bisa kita dapatkan”, pungkas Harris.

Hadir pula pada kunjungan lapangan ini, Tim Investigasi Kecelakaan Kerja dari Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM RI, I Ketut Sujata menyampaikan bahwa kondisi di Wilayah Kerja Panas bumi PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) sudah aman. Dengan pemasangan alat deteksi H2S sebanyak 6 unit memberikan tambahan pengaman bagi masyarakat sekitar. Sebagai tindak lanjut adalah edukasi bagi masyarakat sekitar WKP terkait H2S, bagaimana membedakan gas beracun, H2S dengan belerang, bagaimana pertolongan pertama bagi korban jika terjadi paparan dan terutama manfaat yang bisa dihasilkan dari sinergi aktifitas panas bumi untuk usaha pertanian sampai usaha pariwisata di sekitarnya.

“Kejadian yang sudah terjadi akan menjadi knowledge management dan kita di industri panas bumi antara satu sama lain sudah seperti keluarga dan saling sharing untuk sama-sama belajar dari permasalahan yang ada dan itu sudah dilakukan oleh pihak Pemerintah dalam hal ini EBTKE. Saya sendiri sebagai praktisi sangat merasakan knowledge management itu memang menjadi penting agar kegiatan ke depan lebih baik, penuh antisipasi  dengan mitigasi yang baik kemudian analisa-analisa terhadap resiko di mapping dengan baik”, kata Sujata. (DLP)


Contact Center