Kontribusi Proyek MTRE3 Dukung Aksi Mitigasi dan Percepatan Energi Bersih Daerah

Kamis, 10 November 2022 | 16:50 WIB | Humas EBTKE

JAKARTA - Pemerintah menargetkan proyek Market Transformation for Renewable Energy and Energy Efficiency (MTRE3) United Nations Development Programme (UNDP) dapat memberikan kontribusi penurunan emisi CO2 sebesar 27.019 tons pada masa implementasi program ini di akhir tahun 2022.

Proyek Transformasi Pasar untuk Energi Terbarukan dan Efisiensi Energi ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal EBTKE bekerja sama dengan UNDP Indonesia. Kegiatan ini didanai secara hibah oleh Global Environment Facility (GEF), lembaga donor internasional yang bergerak di bidang lingkungan hidup, dengan total dukungan sebesar US$ 8.025.000. Proyek MTRE3 direncanakan untuk berjalan selama 5 tahun terhitung sejak 2017.

“Penurunan emisi gas rumah kaca di sektor energi sangat bergantung pada aksi langkah mitigasi nyata. Seperti peningkatan pemanfaatan energi terbarukan hingga 23 persen dalam bauran energi nasional tahun 2025, sebagaimana dimandatkan dalam Kebijakan Energi Nasional,” tutur  Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE selaku Deputy National Project Director program MTRE3 Sahid Junaidi dalam acara Virtual Talkshow MTRE3 hari ini (Kamis, 10/11).

Dalam berbagai kesempatan, Sahid melanjutkan, Pemerintah Indonesia juga telah menyampaikan komitmen penurunan emisi Gas Rumah Kaca/GRK nasional hingga 31,8 persen pada tahun 2030 dengan upaya sendiri, atau 43 persen dengan bantuan internasional. "Oleh sebab itu, sebagai implementing partner Proyek MTRE3, kami berharap kegiatan ini dapat berkontribusi langsung pada target penurunan emisi serta pengembangan energi terbarukan Indonesia," tegasnya.

Pelaksanaan proyek MTRE3 difokuskan di empat provinsi percontohan, yaitu Riau, Jambi, Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur. Di keempat provinsi ini, proyek MTRE3 telah melaksanakan berbagai kegiatan untuk mendorong pemanfaatan dan investasi di sektor Energi Baru Terbarukan/EBT dan Konservasi Energi/KE. Mulai dari penyusunan database potensi EBT, penyusunan inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK), penyusunan Marginal Abatement Cost Curve (MACC), dan pendampingan serta fasilitasi penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED), fasilitasi penyusunan KLHS untuk sektor Energi hingga penguatan Integrated Market Service Center (IMSC).

Sahid mengungkapkan MTRE3 telah berhasil mendampingi dan memfasilitasi penyusunan hingga pengesahan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di empat provinsi pilot tersebut. MTRE3 juga telah menyelesaikan berbagai kajian seperti pemetaan potensi EBT di empat provinsi pilot, inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) dan implementasi pilot project Efisiensi Energi (EE).

“Mengembangkan sektor EBTKE membutuhkan usaha bersama-sama dari berbagai pihak terkait. Selain membutuhkan investasi, kita semua paham bahwa pengembangan sektor EBTKE membutuhkan tekad, semangat, ide-ide segar, serta kerja keras dan kerja sama dengan mitra-mitra yang relevan," pungkas Sahid.

Pada kesempatan yang sama, National Project Manager MTRE3, Boyke Lakaseru  mengatakan target kerja MTRE3 antara lain dapat mereduksi 27.019 ton CO2 eq, menghasilkan pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) sebesar 79.190 MWh, penghematan energi dari bangunan dan gedung sebesar 8.550 MWh, menghasilkan investasi publik dan swasta termobilisasi sebesar US$25 juta dan memberikan akses energi berbasis EBT kepada 80.000 rumah tangga.

"Proyek MTRE3 juga memiliki dana yang bernama Sustainable Energy Fund sebesar US$2,6 juta yang diharapkan dapat mendorong investasi publik dan swasta untuk EBT dan efisiensi energi, harapannya dipenghujung dapat menghasilkan investasi publik US$27 juta yang dapat menambah akses listrik bersumber dari EBT,"kata Boy.

Sementara itu, anggota Dewan Energi Nasional, Musri mengatakan, jika dilihat dari potensi energi yang ada Indonesia tidak akan kekurangan pasokan energi, hanya saja dalam pengembangannya terutama untuk energi baru terbarukan diperlukan kerjasama semua pihak. "Hingga 2021 capaian pengembangan EBT kita masih 12,2 persen, untuk mencapai target 2025, ini butuh usaha ekstra cepat”, tegasnya.

Untuk menjawab tantangan ini, menurut Musri, salah satu caranya dengan mengembangkan teknologi untuk percepatan pencapaian target Pemerintah dalam bauran energi nasional.

"Teknologi dapat menjawab semua tantangan, ketika teknologi berkembang, ada kemungkinan target-target ini dapat dicapai dengan dukungan teknologi yang pesat, karena ini bukan hanya tanggung jawab sektor energi, tapi juga sektor teknologi seperti permesinan dan industri-industri transportasi”, ujar Musri.

Dalam virtual talkshow ini, juga digelar diskusi dengan menghadirkan para narasumber perwakilan Dinas ESDM provinsi percontohan proyek MTRE3 dan perwakilan Direktorat Jenderal EBTKE. Perwakilan Dinas ESDM ini rata-rata menyampaikan apresiasinya atas dukungan proyek MTRE3 selama ini dan berharap proyek serupa dapat terus dilanjutkan di provinsi masing-masing. (FE)


Contact Center